Vaksin untuk Anak | Apa Saja yang Orangtua Perlu Ketahui Tentang Vaksin untuk Anak

Mercola.com, 03 Nov 2011

Akal sehat akan berkata, jika kita memberikan anak-anak kita lebih dari 12 lusin vaksin dari mulai lahir sampai usia 18, itu merupakan tindakan yang berlebihan.

Namun, pihak berwenang terus bersikeras bahwa “lebih banyak akan lebih baik” ketika dalam dalam hal vaksinasi tanpa memberikan bukti ilmiah yang memadai untuk membenarkan asumsi tersebut.

Jika Anda mengikuti jadwal vaksinasi yang direkomendasikan CDC, anak Anda akan menerima 49 dosis dari 14 vaksin pada 6 tahun pertama usianya.

Dan pada usia 18, CDC merekomendasikan bahwa anak-anak harus mendapatkan 69 dosis dari 16 vaksin.

Ketika saya pertama kali mulai mempraktekkan kedokteran pada tahun 1985, orangtua mengeluarkan biaya $ 80 untuk membeli vaksin untuk anak-anak mereka (ditambah biaya kunjungan dokter) sesuai jadwal vaksinasi yang direkomendasikan CDC bagi anak-anak.

Hari ini, Anda akan membayar $ 2200 untuk membeli semua yang direkomendasikan pemerintah dan mandat vaksin untuk anak (ditambah biaya kunjungan dokter) karena jumlah vaksin yang dianjurkan untuk anak-anak naik tiga kali lipat dalam tiga selama dekade terakhir.

Sayangnya, biaya yang dikeluarkan dalam jangka pendek untuk vaksinasi anak Anda yang sesuai dengan jadwal CDC tidak sebanding dengan biaya jangka panjang kesehatan anak Anda berikutnya (akibat efek samping vaksin).

Daftar masalah yang berkaitan dengan vaksin dan kebijakan vaksin saat ini, sangat panjang dan meresahkan. Sebagai awalnya:

1. Tidak semua anak-anak identik secara biologis. Pendekataan yang berpegang pada “satu vaksin untuk semua”, tidak memperhitungkan perbedaan antara profil genetik anak-anak atau tanggapan kekebalan mereka berdasarkan faktor-faktor seperti usia, berat badan, dan status kesehatan secara keseluruhan.

2. Tingkat kematian bayi di antara bangsa-bangsa tampaknya terkait dengan jumlah vaksinasi yang diberikan kepada bayi sebelum usia 12 bulan. Lebih banyak vaksin dapat berkontribusi untuk kematian bayi yang lebih tinggi.

3. Bayi-bayi menerima beberapa vaksin sekaligus. Mereka mungkin menerima 8 vaksin atau lebih secara bersamaan di tiap kunjungan dokter (antara usia 2 dan 15 bulan). Pemberian vaksin berlapi-lapis dalam waktu singkat dapat meningkatkan risiko reaksi vaksin yang serius.

4. Banyak vaksin-vaksin yang uji coba keamanannya belum memadai tanpa menggunakan studi ilmiah metodologis yang benar, sehingga jangka panjang efek kesehatan mereka tidak diketahui. Selain itu, efek dari beberapa vaksin yang diberikan secara bersama-sama belum cukup diuji. Disamping itu perusahaan farmasi telah membiayai hampir semua penelitian vaksin, sampai saat ini, dengan demikian menimbulkan bias yang besar.

5. Vaksin tidak memberikan perlindungan lengkap dan permanen terhadap penyakit menular. Sebagai contoh, 75 persen anak-anak yang terjangkit cacar air dalam wabah Maryland 2001 telah divaksinasi terhadap cacar air. Sejumlah besar anak-anak yang divaksinasi juga ditemukan terjangkit pertusis dan wabah gondok.

6. Vaksin tidak selalu steril dan dapat terkontaminasi dengan bakteri, fragmen virus, serta DNA asing manusia dan hewan.

7. Vaksin dapat mengandung zat aditif beracun (termasuk aluminium dan merkuri), yang dapat berkontribusi terhadap akumulasi racun dalam tubuh anak Anda.

8. Beberapa vaksin berhubungan dengan masalah kesehatan yang serius dalam jumlah yang tinggi, baik langsung terlihat ataupun tertunda. Namun profesional kesehatan jarang melaporkan peristiwa buruk vaksin. Setiap tahun, lebih dari 25.000 reaksi merugikan dilaporkan ke pemerintah, termasuk cedera yang tidak dapat dipulihkan lagi dan kematian. Sudah diperkirakan bahwa ini hanya mewakili sekitar 1 sampai 10 persen dari reaksi vaksin total, yang berarti bahwa jutaan orang mungkin telah menderita reaksi vaksin dan cedera selama beberapa tahun terakhir.

9. Vaksin, kata beberapa peneliti, bisa berisi eksitoksin yang mengganggu sistem kekebalan tubuh anak Anda (melalui overstimulasi mikroglial) dan merusak struktur otak yang sedang berkembang, sehingga meningkatkan resiko timbulnya untuk berbagai penyakit, termasuk autisme, ketidakmampuan belajar, dan gangguan kejiwaan. Penelitian baru memberikan bukti hubungan antara tingginya jumlah vaksin dan epidemi autisme.

10. Banyak anak menerima vaksin melebihi  dari jadwal vaksinasi yang direkomendasikan. Jika Anda membawa anak Anda ke beberapa penyedia layanan kesehatan, kemungkinan besar anak Anda akan diberikan “ekstra” dosis. Menurut National Immunization Survey, sepuluh persen anak berusia 19 sampai 35 bulan ditemukan telah menerima vaksinasi ekstra dosis.

11. Mencegah respon imun alami terhadap patogen lingkungan mungkin bukanlah tindakan terbaik bagi anak Anda. Anak yang sehat menerima manfaat seumur hidup dari respon imun alami (ketika terpapar patogen kecil).

Jika Anda telah membaca newsletter saya untuk sementara waktu, Anda tahu bahwa saya telah membahas semua masalah ini selama bertahun-tahun dan terus selalu mengabarkannya ketika penelitian baru telah keluar. Ada sejumlah besar informasi di website saya, termasuk halaman situs yang khusus menginformasikan tentang vaksin. Sumber informasi berharga lainnya bisa Anda dapat di National Vaccine Information Center.

.

Kebijakan Vaksin Saat Ini Bisa Menjelaskan Angka Kematian Bayi yang Tinggi

Dalam sebuah laporan baru-baru ini akan “Efek Samping Vaksin: Bukti dan kausalitas”, dari Institute of Medicine (suatu komite ahli medis) mengakui hubungan kasual antara efek yang merugikan kesehatan dan vaksinasi, sementara untuk mengkonfirmasikan hal tersebut hanya ada sedikiti sekali penelitian metodologis yang dipublikasikan dalam literatur medis untuk membuat kesimpulan pasti akan keseriusan masalah kesehatan berhubungan dengan vaksinasi. Laporan ini diterbitkan setelah penelaahan lebih dari 1.000 penelitian vaksin dengan Institute of Medicine.

Informasi terbaru menurut National Vital Statistics Report, lebih dari 26.000 bayi di Amerika pada tahun 2009 meninggal sebelum ulang tahun pertama mereka, yang memberikan AS tingkat kematian bayi yang sangat tinggi dari enam kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 1960, Amerika mendapat peringkat 12 di antara semua kematian bayi negara di dunia. Pada tahun 2005, kami telah jatuh ke nomor 30. Saat ini di Amerika, ada lebih banyak bayi prematur daripada sebelumnya dan juga banyak bayi non-prematur meninggal sebelum ulang tahun pertama mereka daripada di negara-negara Eropa.

Penelitian terbaru (2011) memperlihatkan hubungan kematian bayi dan vaksinasi yang mungkin merupakan penelitian yang sangat meresahkan. Dari penelitian ini ditemukan bahwa negara-negara maju dengan tingkat kematian bayi terburuk, seperti AS, cenderung memberikan bayi mereka dosis vaksin berlebih sebelum usia satu tahun. Untuk meletakkan ini dalam perspektif, dokter memberikan 26 dosis vaksin kepada bayi-bayi di Amerika sebelum usia satu tahun, ini berarti dua kali lebih banyak dibandingkan vaksinasi yang diberikan di Swedia dan Jepang. Apakah itu benar-benar hanya sebuah “kebetulan” bahwa tingkat kematian bayi adalah dua kali lebih tinggi di Amerika seperti di Swedia dan Jepang?

.

Imunitas Alami Lebih Kuat Dibandingkan Imunitas Hasil Vaksin

Makin banyak vaksin yang dipelajari, makin jelas pula bahwa penelitian-penelitian vaksin yang baik ternyata kurang diadakan, sebagaimana dijelaskan oleh ahli vaksin dan dokter anak – Larry Palevsky. Ada perbedaan besar antara imunitas alami dan imunitas hasil vaksin. Manfaat yang didapat dari imunitas alami jauh lebih hebat.

Ketika anak dilahirkan, mereka mengembangkan imunitas alami terhadap banyak mikroorganisme yang mereka hirup (nafas), konsumsi, dan sentuh. Respons sistem imun di tiap sel saluran pernafasan, kulit, dan pencernaan, sangatlah penting untuk menciptakan “ingatan” dan perlindungan dalam melawan organisme yang biasanya ada disekitar mereka. Garis pertahanan mendasar seperti ini merupakan langkap penting dalam mempermatang sistem imun mereka, namun hal ini terlompati jika anak Anda memperoleh vaksin.

Dengan vaksinasi, Anda sekedar menciptakan suatu antibodi.

Vaksin-vaksin yang ada TIDAK menciptakan imunitas jangka panjang karena mereka tidak menciptakan suatu “ingatan” yang timbul ketika Anda melewati proses respon imun alami. Perlu diketahui juga bahwa paparan alami terhadap patogen belum tentu akan mengakibatkan infeksi. Adalah mungkin untuk memperoleh imunitas alami tanpa harus menderita sakit jika sistem imun Anda kuat. Justru vaksin TIDAK memperkuat fungsi sehat dari sistem imun dan sebenarnya malah memperlemahnya.

.

Membombardir dengan Banyak Vaksin dapat Merusak Otak Anak Anda yang Sedang Berkembang

Dr. Russell Blaylock, seorang ahli bedah syaraf dan vaksin, menemukan mekanisme inti bagaimana vaksin dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit neurologis. Ia mengemukakan teori tentang penyebab gangguan spektrum autis seperti rangkuman berikut:

Penyiapan: Imun sistem anak Anda mengalami “persiapan” ketika terpapar suatu excitotoxin, seperti misalnya vaksin atau agen menular, menyebabkan mikroglia-nya (sel-sel imun khusus dalam otak) pindah ke “mode siap”.
Aktivasi Mikroglial:  paparan berkelanjutan terhadap beberapa vaksin atau stress imun lainnya dalam jangka waktu pendek akan mengaktifkan mikroglia ke tahapan penuh “mode tempur”, siap untuk mempertahankan tubuh anak Anda melawan apa yang mereka anggap sebagai sebuah invasi habis-habisan.
Kerusakan yang Memicu Kerusakan Lain: eksitoksin dan radikal bebas yang dihasilkan, menyebabkan suatu “kerusakan yang memicu kerusakan lain” dalam suatu proses beruntun yang tidak bisa dihentikan. Hal ini menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan jaringan otak, termasuk disfungsi mitokondria, radang otak, kejang, dan kesulitan lain yang terlihat dalam autisme.

Vaksin berbeda dari infeksi alami dan oleh karena itu vaksin dapat menyebabkan stimulasi untuk periode yang yang lama – sistem imun dalam otak anak Anda diaktifkan berulang-ulang oleh paparan berulang. Bayi tidak merespon vaksin dengan cara yang sama seperti orang dewasa, bahkan ketika di usia pertama. Imunitas dari aktivasi yang berlebih bisa sangat merusak bagi bayi atau anak kecil yang struktur otaknya sedang berkembang, seperti amygdala dan sistem limbik.

Siklus ini diperbesar dengan adanya pemberian beberapa vaksin sekaligus. Banyak studi menunjukkan bahwa ini sangat berisiko. Apakah Anda tahu bahwa bayi yang berusia 12-15 bulan diperbolehkan untuk mendapatkan sampai 13 vaksin sekaligus di bawah jadwal imunisasi CDC? Bagaimana hal ini TIDAK dikatakan sebagai suatu pembantaian terhadap sistem imun atau otak yang sedang berkembang? Kapan terakhir kali Anda mengambil 13 obat resep berbeda sekaligus tanpa menderita efek samping?

Beberapa anak tampaknya memiliki resiko lebih tinggi untuk mengembangkan disfungsi otak dan sistem imun yang kronis termasuk autisme, daripada anak-anak lainnya – jika sistem imun mereka lemah. Hal ini bisa terjadi terhadap KELEBIHAN SATU vaksin atau infeksi (dari virus dalam vaksin) yang kemudian berkembang menjadi autis atau gangguan neuroimun lainnya seperti ADD/AHD dan kejang. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan resiko vaksin adalah jika anak Anda rentan terhadap disfungi imun akibat ketidakseimbangan flora usus mereka.

.

Bakteri Pathogen Usus Dapat meningkatkan Kerentanan terhadap Dampak Merusak Vaksin

Dr. Natasha Campbell-McBride menemukan mengapa beberapa anak lebih rentan mengembangkan autisme dibandingkan lainnya. Dia menemukan hubungan erat antara flora usus abnormal dengan perkembangan otak abnormal – suatu kondisi yang dia sebut dengan Gut and Psychology Syndrome (GAPS).

Sistem imun anak Anda dimulai di dari dalam ususnya. Mikroba-mikroba pathogen di dalam saluran pencernaan anak Anda dapat merusak ketahanan dinding usus mereka, sehingga memungkinkan segala macam racun dan mikroba memasuki aliran darah dan kemudian otaknya. Dengan GAPS, sistem pencernaan anak Anda menjadi sumber racun (toksisitas), tidak hanya menjadi sumber makanan.

Dalam penelitiannya, Dr Campbell-McBride menemukan bahwa 100 persen para ibu dari anak autis memiliki flora usus yang abnormal, dimana ini penting diperhatikan karena bayi yang baru lahir mewarisi flora usus mereka dari sang ibu ketika dilahirkan. Membangun flora usus yang normal dalam 20 hari pertamanya memainkan peran penting dalam pematangan sistem kekebalan tubuh bayi Anda. Bayi-bayi yang mengembangkan flora usus abnormal akan bermasalah dengan sistem imun, menempatkan mereka pada resiko tinggi untuk menderita dampak negatif vaksin.

Jika flora usus bayi Anda di bawah optimal, vaksin dapat menjadi pemicu timbulnya masalah sistem imun yang berkembang menjadi masalah kesehatan kronis, seperti yang pernah dikatakan oleh Dr. Blaylock.

Cara terbaik untuk mencegah GAPS adalah dengan menyusui dan menghindari penggunaan antibiotik karena mereka menghancurkan keseimbangan flora usus dan meningkatkan pertumbuhan bakteri patogen. Selain menyusui, saya sangat merekomendasikan penggunaan makanan terfermentasi dan probiotik bagi bayi Anda untuk mengurangi resikonya terhadap GAPS.

Untungnya, adalah mungkin untuk mendeteksi anak Anda terhadap kemungkinan GAPS sebelum ia divaksin, sehingga Anda dapat membuat keputusan vaksinasi yang tepat. Dr. Campbell-McBride menjelaskan seluruh proses dalam bukunya. Ini melibatkan memberikan detail sejarah kesehatan keluarga kepada penyedia layanan kesehatan diakui, dikombinasikan dengan analisa feses dan urin, sehingga kombinasi semua ini akan dapat memberikan gambaran mengenai kesehatan usus bayi Anda dan status imunitas secara keseluruhan.

Dr. Campbell-McBride menyatakan:

“Jika anak Anda memiliki flora usus yang abnormal, kita dapat mengasumsikan bahwa anak Anda memiliki imunitas yang terkompromi, dan anak-anak seperti ini seharusnya tidak boleh divaksinasi dengan protokol vaksinasi standar karena mereka akan mudah rusak olehnya. Mereka seharusnya tidak divaksinasi.”

Tes-tes non-invasif sekarang telah tersedia di sebagian besar laboratorium di seluruh dunia, biasanya menghabiskan $80 – $100 per tes. Biaya ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengeluaran luar biasa untuk mengobati seorang anak autis, ketika kerusakan ini benar-benar terjadi.

.

Rekomendasi untuk Mencegah Overdosis Vaksinasi

Pada akhirnya ini merupakan tanggung jawab Anda untuk melakukan tindakan cerdik dan penelitian bagi Anda sendiri dalam memutuskan vaksin mana yang ingin anak Anda dapatkan. Saya hanya memperingatkan supaya Anda waspada dan tidak sekedar bergantung kepada pemerintah, perusahaan farmasi, atau informasi asosiasi perdagangan medis karena mereka semua tidak akan membeberkan seluruh cerita tentang resiko vaksin.

Tolong lakukan analisa independen dengan cara mendapatkan informasi dari banyak sumber, termasuk organisasi yang berdedikasi dalam mencegah cedera dan kematian akibat vaksin, daripada dari entitas yang membuat miliaran dolar dari mempromosikan kebijakan “pemaksaan satu vaksin cocok untuk semua”. Mohon disadari bahwa sekarang ini dikebanyakan negara bagian Amerika, Anda punya hak untuk memilih keluar dari vaksinasi.  Namun, perlu juga diwaspadai bahwa usaha untuk tidak divaksin sedang diserang disetiap negara bagian karena pelobi farmasi yang kaya dan sangat kuat berusaha untuk menghilangkan ini semua.

Berikut adalah beberapa rekomendasi yang akan membantu Anda menghindari Anda dari dosis berlebih vaksin dan meminimalkan resiko vaksin atas anak Anda:

Simpan catatan rinci tentang vaksinasi yang pernah didapatkan anak Anda dan kapan. JANGAN mengandalkan kantor dokter Anda untuk melakukan ini bagi Anda. Juga ide yang bagus untuk memiliki riwayat vaksinasi anak Anda di tangan Anda pada saat terjadi reaksi negatif vaksin.
Pastikan bahwa dokter Anda atau penyedia vaksin melaporkan reaksi merugikan vaksin ke VAERS (Vaccine Adverse Effects Reporting System = Sistem Pelaporan Efek merugikan Vaksin) atau buatlah laporan Anda sendiri.
Pertimbangkan supaya anak Anda mendapatkan evaluasi terhadap GAPS sebelum vaksinasi apapun, untuk mengurangi resiko kerugian dari vaksin.
Pertimbangkan untuk menggunakan jadwal vaksin individu (dibuat oleh Anda sendiri). Carilah dokter yang bisa Anda ajak kerjasama jika Anda menghendaki pemberian vaksin yang lebih sedikit di hari yang sama atau menghendaki rentang waktu lebih lama di antara per vaksin.
Berikan anak Anda ASI. Pertimbangkan untuk memberikan ia makanan alami yang terfermentasi, kaya akan probiotik, sebagai bagian dalam pola makannya. Hindari antibiotik sebisa mungkin.

Saya juga mendorong Anda untuk terlibat dengan NVIC, sebuah badan amal yang telah bekerja selama 30 tahun untuk melindungi hak hukum Anda mendapatkan informasi yang sesungguhnya, pilihan sukarela tentang vaksin bagi Anda sendiri dan keluarga.

Vaksin untuk Anak | Apa Saja yang Orangtua Perlu Ketahui Tentang Vaksin untuk Anak | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *