Peningkatan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Pendidikan   Agama   Islam   yang   merupakan   bagian   dari   materi pendidikan yang diajarkan di dalam suatu lembaga pendidikan, memberikan suatu harapan kepada peserta didik untuk dapat “beragama  yang baik” dan mampu  mengamalkan   segala  sesuatu  yang  telah  diajarkan   dalam  mata pelajaran tersebut. Namun pada kenyataannya, Pendidikan Agama Islam yang diajarkan  di berbagai  lembaga  pendidikan,  dewasa  ini mengalami  berbagai macam tantangan dan kritik dari berbagai pihak. Di antara berbagai macam tantangan dan kritik tersebut di antaranya adalah:
1.  Pendidikan  Agama  Islam  lebih  terkonsentrasi  pada  persoalan-persoalan

teoritis  keagamaan  yang  bersifat  kognitif  semata,  serta  amalan-amalan

38 Mel Silberman, Op Cit. Hlm. 121-123
 

ibadah praktis, dan lebih berorientasi pada belajar tentang agama, kurang concern  terhadap  persoalan  bagaimana  mengubah  pengetahuan  agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri siswa.
2.  Pendekatan  Pendidikan  Agama Islam cenderung normatif tanpa ilustrasi konteks sosial budaya.
3.  Kegiatan   Pendidikan   Agama   Islam   kebanyakan   bersifat   menyendiri, kurang berinteraksi dengan mata pelajaran lain.
4.  Guru Pendidikan Agama Islam terlalu terpaku pada GBPP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sehingga berimplikasi pada penggunaan metodologi yang konvensional tradisional dan monoton.
5.  Guru Pendidikan Agama Islam lebih bernuansa guru spiritual/moral  dan kurang diimbangi dengan nuansa intelektual dan profesional, dan suasana hubungan   antara   guru   Pendidikan   Agama   Islam   dan   siswa   lebih berperspektif  doktriner, kurang tercipta suasana hubungan kritis dinamis yang dapat berimplikasi pada peningkatan daya kreativitas, etos ilmu dan
etos kerja/amal.39
Berbagai kritik tersebut bukanlah bertendensi untuk mendiskreditkan Pendidikan Agama di sekolah, tetapi lebih berperspektif ke depan untuk peningkatan dan pengembangannya, karena bagaimanapun Pendidikan Agama Islam  dirasakan  sangat  urgen  dan mampu  memberikan  kontribusi  terhadap peningkatan keimanan dan ketaqwaan para siswa.

39 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Op Cit. hlm. 111
 

1.   Indikator  Peningkatan  Kualitas  Pembelajaran  Pendidikan  Agama

Islam
Selama  ini  telah  banyak  pemikiran  dan  kebijakan  yang  diambil dalam   rangka   peningkatan   kualitas   Pendidikan   Agama   Islam   yang diharapkan mampu memberikan nuansa baru bagi pengembangan  sistem pendidikan  di  Indonesia  dan  sekaligus  hendak  memberikan  kontribusi dalam menjabarkan  makna Pendidikan  Nasional  yang berfungsi sebagai kemampuan   dan   membangun   watak   serta   peradaban   bangsa   yang bertujuan   untuk   berkembangnya   potensi   peserta   didik   agar  menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.40

Undang-undang tersebut telah memberikan garis besar tujuan dari Sistem Pendidikan Nasional kita. Namun penjabaran dari tujuan tersebut melalui mata pelajaran ataupun kurikulum yang ditentukan kemudian. Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah juga diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Pada   dasarnya   peningkatan   kualitas   pembelajaran   Pendidikan Agama Islam dapat diketahui berdasarkan hasil dari pembelajaran tersebut. Oleh  karena  itu,  yang  dimaksud  dengan  peningkatan  kualitas  adalah
upaya-upaya pemenuhan standar yang telah ditetapkan, maka dalam hal ini

40 UU Sisdiknas No. 20/2003
 

perlu  diketahui  standar  kompetensi  mata  pelajaran  Islam  untuk  SMP

sebagaimana telah ditetapkan dalam kurikulum 2004 sebagai berikut:

a.   Al-Qur’an

1)  Membaca, mengartikan dan menyalin surat-surat pilihan

2)  Menerapkan  hukum  bacaan  alif  lam  syamsyiyah  dan  alif  lam qamariyah, nun mati/tanwin dan mim mati
3)  Menerapkan bacaan qalqalah, tafkhim, dan tarqiq, huruf lam dan

ra’ serta mad

b.  Keimanan

1)  Beriman kepada Allah SWT. dan memahami sifat-sifat-Nya

2)  Beriman  kepada  malaikat-malaikat  Allah  SWT.  dan  memahami tugas-tugasnya
3)  Beriman  kepada  kitab-kitab  Allah  SWT.  dan  memahami  arti beriman kepada-Nya
4)  Beriman  kepada  rasul-rasul   Allah  SWT.  dan  memahami   arti beriman kepada-Nya
5)  Beriman  kepada hari akhir dan memahami  arti beriman kepada- Nya
6)  Beriman kepada qadla’ dan qadar

c.   Akhlak

1)  Menunjukkan sikap hati lembut, setia, kerja keras, tekun dan ulet dalam kehidupan, berprilaku sabar dan tawakkal
2)  Bertatakrama
 

d.  Fiqih atau ibadah

1)  Melakukan thaharah atau bersuci

2)  Melakukan shalat wajib

3)  Melakukan macam-macam sujud

4)  Melakukan shalat jum’at

5)  Melakukan shalat jama’ dan qashar

6)  Melakukan macam-macam shalat

e.   Tarikh

1)  Memahami masyarakat makkah sebelum dan sesudah datang Islam

2)  Memahami  masyarakat makkah periode Rasulullah SAW

3)  Memahami perkembangan masa khulafa’ur rasyidin.41

Dari penjabaran kompetensi di atas, dapat diketahui bahwa pembelajaran     Pendidikan     Agama     Islam     yang     berkualitas     adalah pembelajaran  tersebut mampu memenuhi target kompetensi  di atas baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Ada beberapa indikator dalam peningkatan kualitas pembelajaran

Pendidikan Agama Islam sebagai berikut:

a.   Prestasi Siswa Meningkat

Prestasi  siswa  dapat  dijadikan  tolak  ukur  keberhasilan  Pendidikan

Agama  Islam.  Namun  selama  ini  Pendidikan  Agama  Islam  yang

41 Depag RI. Kurikulum 2004, Op Cit. hlm 5-6
 

berlangsung cenderung mengedepankan aspek kognitif (pengetahuan)

saja dari pada aspek afektif (rasa) dan psikomotorik (tingkah laku).42

b.  Siswa Mampu Bekerjasama
Di  dalam  pembelajaran  diperlukan  suatu  kerja  sama  antar  siswa ataupun siswa dengan guru. Dengan adanya kekompakan dan keharmonisan  akan timbul suasana pembelajaran  yang kondusif  dan menyenangkan. Keharmonisan perlu dijaga dan dipelihara dengan mewujudkan sikap: 1) adanya saling pengertian untuk tidak saling mendominasi,  2) adanya saling menerima untuk tidak saling berjalan menurut kemauan sendiri-sendiri, 3) adanya saling percaya untuk tidak saling  mencurigai,  4)  adanya  saling  menghargai  untuk  tidak  saling truth  claim  (kalim  kebenaran),  5)  saling  kasih  sayang  untuk  tidak saling membenci dan iri hati.43

c.   Adanya Pembelajaran yang Menyenangkan
Pembelajaran yang menyenangkan sangat diperlukan untuk membantu siswa dalam menyerap dan memahami pelajaran yang diberikan oleh guru.  Karena  apabila  siswa  tidak mampu  menyenangi  pembelajaran maka materi yang disampaikan tidak akan membekas pada diri siswa. Pembelajaran yang menyenangkan ini biasanya dengan menggunakan metode yang variatif dan pembentukan suasana kelas yang menarik.

42  Maftuh  Basuni,  Pengembangan  Kurikulum  Pendidikan  Agama  Islam  (Jakarta:  Raja
Grafindo Persada, 2005), hlm. 23
43 Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar, Op Cit. hlm. 26
 

d.  Mampu Beriteraksi dengan Pelajaran Lain

Problematika  dunia  tidak  hanya  ada pada  masalah  keagamaan  saja, akan tetapi lebih banyak dalam bidang-bidang keduniaan. Namun Pendidikan Agama Islam bisa saja menjadi solusi dari semua bidang- bidang  tersebut asalkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan mampu beriteraksi dengan mata pelajaran lain.
e.   Mampu Mengkontekstualkan Hasil Pembelajaran

Pembelajaran  kontekstual sangat diperlukan untuk membiasakan  dan melatih siswa dalam bersosial, bekerjasama dan memecahkan masalah. Belajar  akan lebih bermakna  apabila  anak “mengalami”  sendiri apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahuinya”.
f.     Pembelajaran  yang Efektif di Kelas dan Lebih Memberdayakan

Potensi Siswa

Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Dan secara mikro, harus ditemukan strategi atau pendekatan     pembelajaran     yang     efektif     dikelas     dan     lebih memberdayakan   potensi siswa. Ketiga hal itulah yang menjadi fokus pendidikan di Indonesia.
g.   Pencapaian Tujuan dan Target Kurikulum

Pencapaian tujuan dan target kurikulum merupakan tugas yang harus dilaksanakan  oleh  guru  dan  siswa  dalam  setiap  pembelajarannya. Tujuan dan target tersebut bisa dijadikan tujuan minimal maupun maksimal  yang  harus  dicapai  tergantung  kepada  kemampuan  pihak
 

sekolah  yang  terdiri  dari  guru  dan  unsur-unsur  lain  sekolah  yang melaksanakannya.
2.   Upaya-upaya     dalam     Meningkatkan     Kualitas     Pembelajaran

Pendidikan Agama Islam

Berangkat  dari  problematika  pendidikan  Agama  Islam  tersebut, dapat diketahui bahwa dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan  Agama  Islam,  guru  merupakan  faktor yang paling dominan dan paling bertanggung jawab dalam hal ini. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah, dalam hal ini yang perlu dilakukan adalah:
a.  Membuat Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan     adalah     suatu         rangkaian         proses     kegiatan menyiapkan     keputusan     mengenai     apa     yang     diharapkan         terjadi (peristiwa, keadaan, suasana dan sebagainya) dan apa yang akan dilakukan  (intensifikasi,  eksistensifikasi,  revisi,  renovasi,  substitusi, kreasi  dan sebagainya).44   Sedangkan  perencanaan  pendidikan  adalah suatu proses mempersiapkan seperangkat keputusan untuk kegiatan- kegiatan di masa depan yang diarahkan untuk mencapai tujuan dengan cara yang optimal.45
Adapun     beberapa     hal     yang     harus     diperhatikan     dalam

penyusunan perencanaan pembelajaran, di antaranya adalah:

1)  Mengutamakan nilai-nilai manusiawi

44   Udin  Syaefudin  Sa’ud  dan  Abin  Syamsuddin  Makmun,  Perencanaan  Pendidikan: Suatu Pendekatan Komprehensif,  (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), Hlm. 3
45 Ibid. Hlm. 27
 

2)  Memberikan  kesempatan  untuk  mengembangkan  potensi  peserta didik seoptimal mungkin
3)  Memberikan kesempatan yang sama bagi setiap peserta didik

4)  Komprehensif dan sistematis

5)  Berorientasi pada pembangunan

6)  Dikembangkan   dengan  memperhatikan   berbagai  keterkaitannya dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis
7)  Menggunakan resources secermat mungkin

8)  Berorientasi pada masa yang akan datang

9)  Kenyal dan responsif terhadap kebutuhan, dalam arti tidak dinamis dan statis
10) Berupa sarana untuk mengembangkan inovasi pendidikan46

b.  Melakukan Pengayaan Materi
Dalam rangka meningkatkan kualitas materi Pendidikan Agama Islam, maka seorang guru perlu mengadakan pengayaan materi ajar pendidikan  agama  Islam,  agar  materi  yang  disampaikan  up to date, kontekstual dan mudah dipahami oleh peserta didik. Materi pelajaran Pendidikan Agama Islam yang normatif, tekstual tanpa disertai dengan pengayaan  materi  bahan  ajar,  seperti  penambahan  ilustrasi  konteks sosial,  maka  akan  membuat  suasana  pembelajaran  tidak  hidup  dan peserta didik kurang bisa menyerap semua apa yang telah disampaikan oleh seorang guru.

46 Ibid. Hlm. 13-14
 

Kejelian   dan   kepandaian   guru   dalam   hal   ini   benar-benar mendapat perhatian serius, karena mau tidak mau, apabila guru kurang bisa   mengilustrasikan     materi   Pendidikan   Agama   Islam   yang disampaikan, justru akan berimplikasi negatif terhadap perkembangan keilmuan dan prilaku peserta didiknya serta tujuan pembelajaran yang diinginkan tidak dapat tercapai secara maksimal.
Di  samping  pengayaan  materi  semacam  hal  tersebut  di atas, guru bidang studi Pendidikan Agama Islam harus mampu pula mengkomunikasikan antara mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan  mata  pelajaran  lain,  artinya  guru  bidang  studi  Pendidikan Agama   Islam   harus   mampu   menginteraksikan   mata   pelajarannya dengan  mata  pelajaran  lain  yang  telah  didapat  oleh  siswa,  sehingga tidak terkesan bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam berdiri sendiri dan bersifat marginal.
Ketika  hal  tersebut  telah  dilaksanakan  secara  maksimal  oleh guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, maka tujuan pembelajaran yang telah terprogram secara baik dan sistematis oleh guru Pendidikan Agama Islam dapat tercapai secara maksimal dan menyeluruh, efektif dan efisien.
c.  Pemanfataan Metode Pembelajaran yang Bervariasi

Dalam upaya mencapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien, guru harus bisa memilih dan menggunakan  metode yang tepat guna dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya. Metode
 

adalah   suatu   cara   yang   dalam   fungsinya   merupakan   alat   untuk mencapai suatu tujuan.
Adapun  usaha yang dapat dilakukan  dalam kaitannya  dengan pemanfaatan metode pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah oleh seorang guru adalah sebagai berikut:
1)   Dalam  penggunaan  metode  mengajar  harus  disesuaikan  dengan materi dan perkembangan anak didik, sehingga dengan penggunaan metode yang tepat, siswa akan lebih mudah dalam memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru secara efektif dan efisien.
2) Guru hendaknya benar-benar memahami dan mengerti tentang berbagai  metode  mengajar  serta  penggunaannya.  Seorang  guru yang  merasa  cocok  atau  sesuai  dengan  suatu  metode     mengajar tertentu, belum tentu cocok atau sesuai dengan guru yang lain. Hal ini   tergantung   atau   dipengaruhi   oleh   faktor   kepribadian   dari masing-masing guru.
3)   Mengingat tiap-tiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka  diharapkan  guru  dapat  memilih  metode  yang  cocok  atau sesuai dengan materi yang disajikan.
4) Dalam menyampaikan materi, hendaknya seorang guru tidak memisahkan metode yang satu dengan metode yang lain, tetapi sedapat mungkin dikombinasikan agar dapat saling melengkapi kekurangan dari metode-metode yang ada.
 

5)   Dalam pemakaian suatu metode perlu diperhatikan perkembangan dunia  pendidikan  dan  pengajaran,  karena  metode  tersebut  tidak dapat dipakai seterusnya, tetapi berubah sesuai tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa penggunaan metode pengajaran  dalam proses belajar mengajar  materi Pendidikan  Agama Islam yang disampaikan oleh guru sangat penting dan sangat mempengaruhi  terhadap  keberhasilan  pencapaian  tujuan  pendidikan yang diharapkan.
Berkaitan dengan pemilihan dan penggunaan metode yang digunakan oleh guru Pendidikan Agama Islam agar supaya tidak monoton, maka metode pembelajaran yang digunakan oleh guru harus dilandaskan pada:
1)  Penyesuaian dengan tujuan pembelaran Pendidikan Agama Islam di sekolah
2) Penyesuaian dengan jenis-jenis kegiatan yang tercakup dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam
3)  Menarik   perhatian   murid   sehingga   mudah   dipahami   dengan sempurna
4)     Penyesuaian dengan kecakapan atau kepribadian guru

5)     Pemanfaatan Fasilitas (sarana prasarana)

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak akan mudah mentransferkan dan mendidik muridnya tanpa menggunakan alat bantu
 

(sarana prasarana).  Penggunaan  alat bantu tersebut ditujukan sebagai suatu cara untuk mempermudah dalam penyampaian materi yang diajarkan  oleh  guru  bidang  studi  tentang  mata  pelajarannya  kepada murid agar cepat diterima secara sempurna, efektif dan efisien.
Oleh   karena   itu,  dalam   menyampaikan   materi   Pendidikan Agama Islam, guru bidang studi ini harus jeli dan cerdas dalam menggunakan fasilitas, peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembelajarannya. Agar supaya fasilitas dan sarana prasarana yang ada di sekolah itu dapat menjadi jembatan dalam pencapaian tujuan pembelajaran pendidikan Agama Islam pada khususnya, maka:
1)   Harus  mengenal  alat-alat  itu  dengan  sebaik-baiknya,   mengerti fungsinya dan apa yang akan kita capai dengan alat tersebut
2)   Harus jelas bagi kita tujuan yang akan dicapai melalui penggunaan fasilitas atau peralatan tersebut
3)   Harus sanggup memelihara atau memanfaatkan alat-alat yang ada atau fasilitas yang tersedia.47
d.  Mengadakan Evaluasi
Evaluasi berasal dari dari bahasa Inggris yaitu “evaluation”. Menurut Edwin Wand dan Gerald Brown dalam Wayan Nurkancana, evaluasi  adalah  suatu  tindakan  atau prosas  untuk  menentukan  nialai daripada sesuatu. Sesuai dengan pendapat tersebut maka evaluasai pendidikan  dapat  diartikan  sebagai  suatu  tindakan  atau suatu  proses

47  Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Raja Grafindo Persada, 1983), hlm.
56
 

untuk     menentukan     nilai     dari        segalala         sesuatu         dalam     dunia pendidikanatau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.48     Evaluasi     dalam     hal     ini     diartikan     sebagai      suatu pengukuran (measurenment) atau penilaian (evaluation) terhadap suatu perencanaan yang telah dilakukan oleh guru yang biasa dilakukan pada pertengahan, akhir bulan atau tahun.49
a.   Prinsip Evaluasi Pembelajaran

Dalam   memberikan   evalusi   hasil  belajar  dalam  proses belajar mengajar pendidikan agama harus didasarkan pada prinsip pelaksanaan. Adapaun prinsip-prinsip pelaksanaan evaluasi itu sebagai berikut:
1)  Komprhensif

Yang dimaksud  dengan prinsip komprehensif  adalah evaluasi itu harus dikenakan atau diberlakukan untuk segala aspek kepribadian anak didik yang meliputi pengertian, sikap, dan keterampilan  bertindak  (cognitive,  affective  dan psychomotor) dibidang pendidikan agama Islam.
2)  Kontinuitas
Pendidikan  dan  pengajaran  agama  merupakan  suatu  proses yang     kontinu/lestari.     Oleh     sebab     itu     evaluasinya     harus dilakukan secara terus menerus, lestari/kontinu pula.

48   Wayan  Nurkancana  dan  PPN.  Sumartana,  Evaluasi  Pendidikan,  (Surabaya:  Usaha
Nasional, 1986), hlm 1
49  Suharsimi  Arikunto,  Dasar-dasar  Evaluasi Pendidikan  (Jakarta: Bumi Aksara, 2001),
hlm. 3
 

3)  Objektivitas

Evaluasi  harus  dilakukan  secra  obyektif  dan  sesuai  dengan keadan objyek dan dapat dipertanggungjawabkan.
b.   Macam-macam jenis evaluasi hasil PBM pendidikan agama Islam adalam:  (1)  Pre  Tes  dan  Post  Tes,  (2)  Evaluasi  formatif,  (3) Evaluasi sumatif, (4) Evaluasi placement, (5) Evaluasi diagnosis.
Jika ditinjau dari alat yang dipergunakan murid dalam mengerjakannya,   tes  dibagi  menjadi  tiga  jenis,  yaitu:  (1)  tes tertulis,  (tes  lisan),  dan  (3)  tes  perbuatan.  Aspek  yang  bersifat kognitif (ingatan, pemahaman, dan sebagainya), biasanya dinilai melalui   tes   tertulis   ataupun   lisan,   sedangkan   tes   perbuatan lazimnya  dipergunakan  untuk  menilai  aspek  kemampuan  yang
bersifat keterampilan (psikomotor).50

c.   Fungsi evaluasi pendidikan

1)  Mengetahui kesiapan peserta didik

2)  Mengetahui     kemajuan     dan     perkembangan     siswa     dalam pembelajaran
3)  Mengetahui keberhasilan metode

4)  Mengupayakan perbaiakan proses belajar mengajar d.   Tujuan evaluasi
1)  Menyeleksi siswa (placement)

2)  Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa

50 Ibid. hlm. 122-129
 

3)  Mengetahui efektifitas proses belajar mengajar.

4)  Menentukan     tindak     lanjut,     penilaian;     perbaikan     dan penyempurnaan strategi dan program
5)  Akuntabilitas sekolah kepada pihak yang berkepentingan51
e.   Ruang lingkup  kegiatan  eveluasi  pendidikan  mencakup  penilaian terhadap kemajuan belajar (hasil belajar) peserta didik, dalam aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap, minat, perhatian sesudah mengikuti   program   pengajaran,   evaluasi   mengajar   guru   dan efektifitas sarana pendidikan.52

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *