Penentuan Awal Bulan Qomariyah

Penentuan Awal Bulan Qomariyah

Satu pertanyaan yang seringkali muncul di kalangan umat Islam adalah, mengapa sering terjadi perbedaan awal Ramadhan, dan jatuhnya Hari Raya, baik Idul  Fitri/Idul  Adha?  Jawaban  singkatnya,  karena  terdapat  perbedaan  metode dalam penentuan awal bulan.
Selain    Departemen    Agama—yang    kini    telah    berubah    nama    menjadi

Kementerian        Agama—dua    ormas    terbesar    di        Indonesia,    yakni    NU        dan Muhammadiyah selalu andil dalam menentukan awal Ramadhan, dan jatuhnya Idda‘in (dua  hari  raya).  Namun keduanya memiliki metode yang  berbeda dalam penetapan awal Ramadhan dan jatuhnya Idda‘in. NU menggunakan metode rukyat . Sedangkan    Muhammadiyah        lebih     cenderung    menggunakan    metode    Hisab Astronomi, meski tidak meninggalkan sepenuhnya metode rukyat .

1.   Nadhatul Ulama

Dalam menentukan kepastian awal bulan Qamariyah, khususnya awal Ramadan, awal Syawal, dan awal Dzulhijjah, NU mendasarkan pada rukyat , bukan pada hisab; sesuai dengan nash dan aqwalul „ulama‟ yang dipegangi, demikian keterangan  dalam  situs  resmi  NU.  Namun,  seiring  perjalanan  waktu  NU  yang semula mendasarkan pada rukyat   maju menjadi rukyat   plus hisab dan seterusnya rukyat    berkualitas plus hisab akurat, kemudian ditambah lagi menerima kriteria imkanur rukyat . Jadi NU mendasarkan kepada rukyat  berkualitas dengan dukungan hisab yang akurat sekaligus menerima kriteria imkanur rukyat .
NU telah melakukan redefinisi hilal dan rukyat    menurut bahasa, Al-Qur‘an,  As- Sunnah dan menurut sains sebagai landasan dan pijakan kebijakannya dalam penentuan awal Ramadhan, dan jatuhnya hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Menurut Ghazalie Masroeri, Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul

Ulama, hilal dalam bahasa Arab adalah sepatah kata isim yang terbentuk dari 3 huruf
 
asal yaitu ha-lam-lam ( ل- ل- ﻫ), sama  dengan terbentuknya kata  fi‘il  لهdan له . Hilal

artinya bulan sabit yang tampak. Dalam konteks hilal mempunyai arti:

للاهل  لهdan        للاهل  لهartinya    bulan    sabit    tampak. لجرل  لهartinya    seorang    laki-laki    melihat/memandang    bulan       sabit. للاهل  موقل  له artinya  orang  banyak  teriak  ketika  melihat  bulan  sabit. رهشل  لهartinya   bulan  (baru)  dimulai  dengan  tampaknya  bulan  sabit.
Jadi menurut bahasa Arab, hilal itu adalah bulan sabit yang tampak pada
awal bulan. Firman Allah:

 
    
 
      
 

 
•
 

 
     
 
   
 

 
 
 
 
 
 
 
     
 
 
 

 

Artinya:

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Q.S. Al-Baqarah:189)

Al-Qur‘an  surat  Al-Baqarah ayat 189 di atas mengemukakan pertanyaan para Shahabat kepada Nabi tentang penciptaan dan hikmah ahillah (jamak dari hilal). Atas perintah Allah SWT kemudian Rasulullah SAW menjawab bahwa ahillah atau hilal itu sebagai kalender bagi ibadah dan aktifitas manusia termasuk haji. Pertanyaan itu muncul  karena  sebelumnya  para  sahabat  telah  melihat  penampakan  hilal  atau dengan kata lain hilal telah tampak terlihat oleh para sahabat.
Para mufasir telah mendefinisikan, bahwa hilal itu mesti tampak terlihat. Ash- Shabuni dalam tafsirnya Shafwatut Tafasir juz I mengemukakan tafsir ayat tersebut sebagai  berikut: ―Mereka bertanya kepadamu hai Muhammad tentang hilal mengapa ia tampak lembut semisal benang selanjutnya membesar dan terus membulat kemudian menyusut dan melembut sehingga kembali seperti keadaan semula?‖
 
Dalam pada itu Sayyid Quthub dalam tafsirnya Fii Zhilalil Qur‟an juz I menafsirkan  ayat  tersebut sebagai   berikut:  ―Maka  mereka  bertanya  tentang  ahillah (hilal) … bagaimana keadaan ahillah (hilal)? Mengapa keadaan qamar (bulan) menampakkan hilal lalu membesar sehingga bulat menjadi purnama selanjutnya berangsur menyusut sehingga kembali menjadi hilal lagi dan kemudian menghilang tidak tampak untuk selanjutnya menampakkan diri menjadi hilal dari (bulan) baru?‖
Jadi, berdasarkan ayat tersebut didapat pengertian, hilal atau bulan sabit itu pasti tampak terlihat.
Masalah hilal juga sudah diterangkan dalam hadist Nabi Saw. Dalam hadits

yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dari sahabat Nabi SAW bernama  Rib‘i bin  Hirasy yang  mengatakan adanya perbedaan di  kalangan para sahabat mengenai akhir Ramadhan kemudian ada laporan hasil  rukyat ; perukyat melaporkan dengan ungkapan:
―Demi Allah sungguh telah tampak hilal kemarin sore.‖

Hadits tersebut menyatakan bahwa hilal itu pasti tampak terlihat. Demikian pula dalam hadits-hadits yang lain.
Sementara itu hilal atau bulan sabit dalam istilah astronomi disebut crescent,

yakni bagian dari bulan yang menampakkan cahayanya terlihat dari bumi ketika sesaat setelah matahari terbenam pada hari telah terjadinya ijtima‘ atau  konjungsi.
Dari tinjauan bahasa, Al-Qur‘an,  As-Sunnah dan tinjauan sains sebagaimana diutarakan di atas,  Ghazalie Masroeri menyimpulkan bahwa hilal (bulan sabit) itu pasti tampak cahayanya terlihat dari bumi di awal bulan, bukan sekedar pemikiran atau dugaan adanya hilal. Oleh karena itu kalau tidak tampak tidak disebut hilal.
Sehubungan dengan kriteria hilal itu mesti tampak, maka Rasulullah SAW menyuruh kaum muslimin melakukan  rukyat, yakni dengan melihat, mengamati secara langsung (observasi) terhadap hilal itu.
Lebih  jauh,  alasan  NU  dalam  penggunaan metode  rukyat    adalah  bahwa

dalam    memahami,    menghayati,    dan    mengamalkan    ad-dinul    Islam,    harus mendasarkan pada asas ta‟abbudiy (ketaatan). Untuk mewujudkan kesempurnaan ta‟abbudiy tersebut perlu didukung dengan menggunakan asas ta‟aqquliy (penalaran).
 
Dalam  konteks  ini,  asas  ta‟abbudiy  dilaksanakan  dengan  mengamalkan  perintah

rukyatul hilal.

Dalam buku Antologi NU diterangkan, kebijakan ulama salaf (jumhur ulama) berpendapat bahwa penetapan (isbat) awal Ramadhan dan Syawal hanya boleh dengan cara rukyat. Jika rukyat tidak bisa berhasil karena terhalang oleh mendung misalnya, maka digunakan cara istikmal, yakni menyempurnakan hitungan menjadi
30 hari. Jadi, dalam konteks ini istikmal bukanlah metode tersendiri, tetapi metode

lanjutan ketika rukyat tidak efektif. Prosedur tersebut sebagaimana hadis Rasulullah

Saw:

Berpuasalah kalian karena melihat bulan, dan berbukalah (tidak berpuasa lagi) karena melihatnya. Apabila kalian tidak melihatnya karena mendung, sempurnakanlah hitungan bulan Sya‟ban sampai tiga puluh hari (HR. Bukhari dan Muslim).

Pendapat NU berkaitan dengan masalah yang sedang kita bicarakan ini, merupakan metode penetapan puasa dan Idul Fitri yang diikuti oleh semua Imam Madzhab yang  empat (Hanafi, Maliki,  Hambali dan  Syafi‘i). Hanya saja kalangan Imam  Syafi‘i masih  mengakomodasikan metode hisab dan memperbolehkannya sebagai    dasar    bagi    para    ahli    hisab    itu    sendiri    dan    mereka    mempercayai kebenarannya.
Rais Amm PBNU  Sahal Mahfudh pernah berpendapat bahwa kedudukan

hisab    merupakan    metode    pendamping.    Yakni    sekadar    digunakan    untuk memperkirakan (secara teoritik) apakah rukyat dapat dilakukan atau tidak.
Dipakainya  metode  hisab dalam NU  hanya  sebagai  hisab  penyerasian NU dengan pendekatan rukyat  yang  diputuskan dalam musyawarah ‗ulama‘ ahli  hisab, ahli  astronomi,  dan ahli  rukyat .  NU beranggapan bahwa  hisab  penyerasian NU mempunyai tingkat akurasi yang sangat tinggi, lebih dari 90% sesuai dengan hasil rukyatul hilal bil fi‟li. Kemudian Kementerian Agama pun membuat semacam sistem penyerasian  untuk  mengatasi  perbedaan  yang  terdapat  dalam  berbagai  metode hisab.
 
Adapun tahap-tahap penentuan awal bulan Qamariah, khususnya awal bulan Ramadlan, awal bulan Syawal, dan awal bulan Dzulhijjah, perspektif NU, sebagaimana ditulis  KH. A. Ghazalie Masroeri adalah melalui empat tahap, yaitu:
1. Tahap pembuatan hitungan hisab

2. Penyelenggaraan rukyatul hilal

3. Berpartisipasi dalam sidang itsbat

4. Ikhbar

Ilmu falak telah berkembang di kalangan NU sejak abad 19. Lembaga- lembaga pendidikan NU, seperti pesantren dan madrasah memberikan pendidikan ilmu falak/hisab. Dari pendidikan itu lahirlah ulama-ulama ahli falak/hisab NU tersebar di seluruh Indonesia.
Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) didirikan dari tingkat pusat sampai daerah sebagai wadah berhimpunnya ahli hisab, astronom, dan ahli rukyat; penyelenggarakan diklat hisab dan rukyat    juga digelar dari tingkat dasar sampai tingkat mahir yang bertujuan untuk menangani masalah-masalah kefalakiyahan dan pemanfaatannya.
Setiap    menjelang    awal    tahun    Hijriyah,        LFNU    menyelenggarakan musyawarah ahli  hisab, astronom, dan ahli rukyat    untuk merumuskan hitungan hisab    kalender    tahun-tahun    berikutnya.        Hisab     jama‟iy/kolektif/penyerasian, diumumkan melalui almanak setiap tahun dan digunakan untuk penyelenggaraan rukyatul hilal.
Sesungguhnya rukyat/observasi terhadap benda-benda langit khususnya bulan dan matahari telah dilakukan ribuan tahun sebelum masehi.  Rukyat demi rukyat, observasi demi observasi dilakukan kemudian dicatat dan dirumuskan, lahirlah ilmu hisab/ilmu astronomi.
Rukyat/observasi, demikian KH A Ghazalie Masroeri, adalah ibu yang melahirkan ilmu hisab dan astronomi. Tanpa rukyat/observasi tak akan ada ilmu hisab dan astronomi.
Rukyat yang diterima di Indonesia ialah rukyat Nasional, yakni rukyat yang

diselenggarakan di dalam negeri dan berlaku satu wilayah hukum. Perbedaan hasil
 
rukyat di Indonesia dengan Negara lain seperti Saudi Arabia tidaklah menjadi masalah.
Dengan panduan dan dukungan ilmu hisab, maka rukyat diselenggarakan di

titik-titik strategis yang telah ditetapkan (sekitar 55 tempat) di seluruh Indonesia di bawah koordinasi LFNU di pusat dan di daerah. Pelaksana rukyat terdiri dari para ulama‘  ahli  fiqh, ahli rukyat, ahli hisab, dan bekerja sama dengan ormas Islam dan instansi terkait.
Rukyat diselenggarakan dengan menggunakan alat sesuai dengan kemajuan

teknologi dan  yang  tidak   bertentangan dengan syar‘i.  Jadi,  bukan dengan mata

telanjang, melainkan sudah dibantu dengan alat yang canggih.

Setelah rukyat dilakukan, kemudian hasilnya dilaporkan kepada PBNU. Dari laporan-laporan itu sesungguhnya NU sudah dapat mengambil keputusan tentang penentuan awal bulan, tetapi tidak segera diumumkan melainkan dilaporkan lebih dulu ke sidang itsbat, dengan tujuan agar keputusan itu berlaku bagi umat Islam di seluruh Indonesia.
Hal tersebut mengikuti apa yang sudah dilakukan para Sahabat Nabi. Ketika

para Sahabat berhasil melihat hilal, tidak serta-merta mereka  menetapkannya dan mengumumkan kepada masyarakat mendahului penetapan Rasulullah SAW.
Hasil rukyat dilaporkan kepada Rasulullah SAW. Selanjutnya beliau sebagai

Rasul Allah maupun sebagai kepala negara menetapkannya. Sebagaimana tersebut dalam hadits:

―Dari Abdullah bin Umar ia berkata: orang-orang berusaha melihat hilal (melakukan rukyatulhilal) lalu saya memberitahu kepada Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya saya telah melihat hilal, maka beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang agar supaya berpuasa‖. (HR Abu Dawud, Daruquthni, dan Ibnu Hibban)

Setelah setelah dikeluarkan itsbat, maka NU mengeluarkan ikhbar (pemberitahuan) tentang sikap NU mengenai penentuan awal bulan Ramadhan, awal bulan Syawal, dan awal bulan Dzulhijjah atas dasar rukyatul hilal yang didukung dengan hisab yang akurat sesuai dengan kriteria imkanur rukyat.
 
Ikhbar ini adalah hak PBNU untuk menetapkan hasil rukyat yang dikeluarkan setelah itsbat, dan merupakan bimbingan terhadap warga NU, yang secara jam‟iyyah (kelembagaan) harus dilaksanakan.
Sementara itu, dalam masalah matla’ (pemberlakuan wilayah rukyat), apakah

rukyat berlaku untuk rukyat lokal, nasional, ataukah internasional. NU menetapkan rukyat nasional wilayatul hukmi Indonesia. Hasil rukyat hilal di suatu tempat hanya berlaku bagi suatu negara kekuasaan hakim (pemerintah) yang menetapkan (itsbat) hasil rukyat tersebut.
Matla’ berlaku hanya untuk wilayah hukum suatu negara tertentu dan tidak berlaku bagi negara lain. Artinya, rukyat hilal berlaku untuk seluruh kawasan Nusantara berlandaskan satu kesatuan hukum negara sehingga kesepakatan dan keputusan pemerintah tentang awal Hijriyah khususnya awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah berlaku untuk  seluruh negara  kesatuan RI.  NU  menolak adanya rukyat internasional yang berkiblat pada hasil rukyat Arab Saudi.

2.   Muhammadiyah

Jika NU lebih mengutamakan penggunaan rukyat dari pada hisab, maka Muhammadiyah    cenderung    menggunakan    hisab,    meskipun    tidak    melupakan metode    rukyat.     Munir    Mulkhan    menulis,    bahwa    Muhammadiyah    tetap menggunakan metode rukyat. Namun demikian berdasarkan perkembangan iptek dan  pola  kehidpan masyarakat maka  pelaksanaan ru‘yat  dilakukan dengan menggunakan hisab.
Dalam Muktamar Muhammadiyah di Makassar tanggal 1–7 Mei 1932, salah

satu  butir  keputusannya:  “As-Shaumu  wal  fithru  bir ru‟yati wala mani‟a  bil hisab” (‖Berpuasa dan   berbuka  [berhari raya]  dengan  rukyat    dan  tidak  ada  halangan dengan hisab‖). Sementara itu  dalam Muktamar Tarjih XXVI di Padang tahun 2003 tentang Hisab dan Rukyat diambil kesimoulan bahwa:
a).  Hisab  mempunyai  fungsi  dan  kedudukan  yang  sama  dengan  rukyat

sebagai pedoman penetapan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah.
 
b). Hisab sebagaimana tersebut pada poin satu yang digunakan oleh Majelis Tarjih    dan    Pengembangan    Pemikiran    Islam    Pimpinan    Pusat Muhammadiyah ialah Hisab Hakiki dengan kriteria wujudul hilal.
c). Matlak yang digunakan adalah matlak yang didasarkan pada wilayatul hukmi (Indonesia).
d). Apabila garis batas wujudul hilal pada awal bulan Qamariyah tersebut membelah wilayah Indonesia maka kewenangan menetapkan awal bulan tersebut diserahkan kepada Kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Selain hal  tersebut di  atas  Tarjih dalam HPT  menjelaskan sebagaimanana uraian berikut:
Berpuasa  dan  ‗Ied  Fitrah  itu  dengan rukyat dan tidak berhalangan dengan

hisab. Dalil-dalil yang digunakan sebagai dasar adalah sebagai berikut:

Firman Allah:

 
   
 
 
 

 
      
 

 

 
      
 
 
 

 

Artinya:

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Q.S. Yunus: 5)

Juga Firman Allah:

 
 
 

 
 
 
  
 
 
 
  
 

 

 
 
 
Artinya:

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (Q.S. Yaasiin :
40).

   

Artinya:

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan” (Q.S. Ar-Rahmaan: 5). Hadis Nabi Muhammad Saw:
Berpuasalah  karena  melihat  tanggal  dan  berbukalah  karena  melihatnya.  Maka

bilamana tidak terlihat olehmu, maka sempurnakanlah bilangan sya‟ban  tiga puluh hari. (HR. Bukhari).

Juga hadis lain yang artinya:

“Dari Kuraib (diriwayatkan bahwa) sesunggguhnya Ummu Fadhl binti al-Harits mengutusnya menemui Mu’awiyah di negeri Syam. Ia berkata: Saya tiba di negeri Syam dan melaksanakan keinginannya. Dan masuklah bulan Ramadhan sementara saya berada di negeri Syam. Saya melihat hilal pada malam hari Jum’at, selanjutnya saya kembali ke Madinah pada akhir bulan Ramadaan. Lalu Abdullah bin Abbas r.a. bertanya kepada saya dan menyebut tentang hilal. Ia bertanya: Kapan kalian melihat hilal? Saya menjawab : Kami melihat hilal pada malam hari Jum’at. Ia bertanya lagi: Apakah kamu sendiri yang melihatnya ? maka Jawab Kuraib, benar, dan orang yang lain juga melihatnya. Karenanya Mu’awiyah dan orang-orang disana berpuasa. Lalu Abdullah ibn Abbas berkata: Tetapi kami melihat hilal pada malam hari Sabtu, karenanya kami akan terus berpuasa hingga 30 hari (istikmal) atau kami melihat hilal sendiri. Saya (Kuraib) bertanya: Apakah kamu (Abdullah bin Abbas) tidak cukup mengikuti rukyatnya Mu’awiyah (di Syam) dan puasanya. Abdullah bin Abbas menjawab: Tidak, demikianlah yang Rasulullah saw. perintahkan kepada kami” (H.R. Muslim).
 

Selanjutnya,    Tarjih    Muhammadiyah    menyatakan    apabila    Ahli    Hisab menetapkan bahwa bulan tampak (tanggal) atau sudah wujud tetapi tidak kelihatan, padahal kenyataannya ada  orang  yang  melihat pada mu‘tabar, maka  Majlis Tarjih memutuskan bahwa rukyatlah yang mu‟tabar.
Hal  ini  di  dasarkan hadis  yang  artinya: ―Menukil  hadis  dari  Abu  Hurairah

r.a.  yang  berkata  bahwa  Rasulullah  bersabda:  “Berpuasalah karena kamu  melihat tanggal dan berbukalah (berlebaranlah) karena kamu melihat tanggal, bila kamu tertutup oleh mendung,  maka sempunakanlah bilangan bulan Sya‟ban 30 hari (HR. Bukhari dan Muslim)
Ismail Thaib, dalam Majalah Suara Muhammadiyah pernah menulis bahwa

Putusan Muktamar Muhammadiyah di Makassar sebagaimana disebutkan di muka, yakni “As-Shaumu  wal fithru bir ru‟yati wala mani‟a bil hisab” (‖Berpuasa dan  berbuka [berhari raya] dengan rukyat    dan tidak ada halangan dengan hisab‖) merupakan putusan yang bijaksana. Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa selama ini Muhammadiyah cenderung mengedepankan metode hisab dari pada rukyat.
Ismail secara rinci mencoba menjelaskan kembali masalah hisab sebagai metode yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam penentuan awal Ramadhan, dan jatuhnya Idul Fitri dan Idul Adha, secara lebih mendalam dilihat dari sudut pandang  syariat  Islam.  Menurutnya,  perintah  Nabi  Saw  dalam  sabdanya  yang artinya: ―Berpuasalah kamu karena melihat  bulan dan berbukalah (berhari raya) kamu karena melihat bulan..‖ mesti  ditafsirkan tidak  sempit. Bahwa  perintah Nabi itu dan Hadits-hadits lain yang semakna dengan itu masih bersifat lepas (mutlak) belum dikaitkan dengan illat. Oleh karenanya, demikian Ismail, apabila ada nash (Hadits) lain yang memautkan perintah itu dengan suatu illat, maka ketika itu persoalannya menjadi lain, menjadi berbeda dan illat itu ada pengaruhnya dalam pemahaman Hadits tersebut dan hukum berjalan sesuai dengan illat itu dalam penjabaran (tathbiq) atau operasionalnya.
Penggunaan  metode  hisab  oleh  Muhammadiyah  didasarkan  pada  alasan,

salah satunya adalah Hadits Nabi sebagaimana tersebut di atas, bukanlah satu satunya hadits dalam masalah hilal, tetapi masih ada lagi hadits lain yang lebih jelas
 
menjelaskan illat-nya, yaitu hadits riwayat Muslim dan lain-lainnya, di mana Nabi bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya  kita ummat  yang ummi  (buta aksara) tidak bisa menulis dan tidak

bisa menghitung (hisab), bulan itu begini dan begini”

Hadits di atas menurut Ismail, dianggap pokok dalam masalah hisab, karena seakan-akan Rasulullah mengatakan bahwa berpegang kepada rukyat lantaran kebanyakan umat Islam di masa beliau buta aksara, belum mengenal ilmu hisab.
Di  dalam sebuah buku tentang  Pedoman  Hisab Muhammadiyah,  disebutkan bahwa dalam konteks ke-Indonesiaan penggunaan hisab lebih memungkinkan dan lebih praktis karena dapat menentukan tanggal jauh sebelumnya dan dapat menentukan masa  depan secara  lebih pasti,  sehingga  persiapan-persiapan dapat dilakukan secara lebih tepat perhitungan dan jauh sebelumnya. Perhatian dan orientasi ke depan adalah salah satu prinsip ajaran Islam dan sekaligus cermin sikap modern.    Selain    itu    penggunaan    hisab    ini    juga    mencerminkan    kepercayaan Muhammadiyah kepada ilmu pengetahuan, yang juga merupakan prinsip ajaran Islam dan sekaligus ciri kemodernan.
Sementara itu, bila garis batas wujudul hilal membelah dua wilayah kesatuan

Republik    Indonesia    yang    “besarnya    hampir    sama”,    maka    Pimpinan     Pusat Muhammadiyah    akan    menggunakan        kriteria        wujudul        hilal     nasional    dalam menentukan   awal   bulan   Qamariah,   khususnya   awal   Ramadan,   Syawal,   dan Zulhijah. Kriteria wujudul hilal nasional merupakan teori di mana awal bulan Qamariah dimulai apabila setelah terjadi ijtimak (conjunction) matahari tenggelam terlebih dahulu dibandingkan bulan (moonset after sunset); pada saat itu posisi bulan di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia. Artinya pada saat matahari terbenam (sunset) secara filosofis hilal sudah ada di seluruh wilayah Indonesia.
Namun  jika  garis  batas  wujudul  hilal  membelah  dua  wilayah  kesatuan

Republik Indonesia dan sebagian besar sudah wujud maka diberlakukan konsep

matla‟ sebagaimana yang tertuang dalam putusan Munas Tarjih di Makassar.

M. Yusuf Amin Nugroho

Penentuan Awal Bulan Qomariyah | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *