NIKMATNYA UKHUWAH

Oleh : Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Setelah selesai membangun masjid Quba’ bersama para sahabatnya, rasulullah saw. mempersaudarakan kaum muhajirin dengan kaum anshor atau disebut dalam bahasa Arab dengan ta’akhi, guna mengokohkan pilar-pilar masyarakat yang baru dibangun. Persaudaraan atau ukhuwah ini selanjutnya akan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat baru yang terdiri dari berbagai latar belakang suku, adat dan kebiasaan. Nilai-nilai ukhuwah Islamiyah itu selanjutnya mampu membentuk masyarakat dan melahirkan generasi yang unik, hingga Imam Malik menjadikan perilaku penduduk Madinah sebagai salah satu dari sumber hukum Islam, karena tidak mungkin ada penduduk Madinah di zaman nabi yang berbuat kesalahan kemudian tidak dibetulkan oleh rasulullah saw.

Kawan…
Mau diakui atau tidak, saat ini kita hidup dalam situasi yang jauh dari nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya, kita berada dalam suasana yang lebih menonjolkan kepentingan individu daripada kepentingan saudara, lebih mengedepankan sikap buruk sangka daripada berbaik sangka, lebih senang jika kita sendiri yang mendapatkan nikmat bukan saudara kita . Belum lagi jika kita melihat kondisi saudara-saudara kita dibelahan bumi yang lain, darah umat Islam tertumpah sia-sia, nyawa mereka melayang, mereka dihinakan dan diinjak-injak , umat Islam tidak berdaya. Sementara, saudara-saudaranya -termasuk kita- diam seribu bahasa tidak dapat berbuat apa-apa. Do’a pun kadang-kadang lupa tak terpanjatkan untuk mereka. Ukhuwah Islamiyah semakin terkikis…

Saat ini kita membutuhkan ukhuwah dengan segala makna yang terkandung dalam kata itu. Bukan ukhuwah basa-basi, yang kelihatannya berukhuwah namun sesungguhnya bermusuhan, kelihatannya membantu namun sesungguhnya adalah memanfaatkan. Ukhuwah yang sesungguhnya adalah ukhuwah yang didasarkan kepada keimanan dan ketakwaan, apabila ada persaudaraan atau perkumpulan yang tidak didasari dengan keimanan dan ketakwaan, maka jangankan abadi sampai di akhirat, di dunia saja mereka akan cerai berai dalam waktu yang cepat atau lebih cepat. Allah berfirman: “Teman-teman yang akrab pada hati itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa” (Az Zukhruf:67)

Dengan ukhuwah yang sesungguhnya, seseorang dapat tetap komitmen dan bertahan dalam kebenaran, tidak akan mudah letih karena saudaranya akan selalu memberikan bantuan dalam ketaatan. Sekuat apapun manusia, -apabila sendirian- akan mudah lelah dalam berbuat ketaatan, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi berbalik dari ketaatan menjadi kemaksiatan.

Dengan ukhuwah yang sesungguhnya, seseorang akan mudah mendapatkan nasihat dari saudaranya manakala tergelincir dalam kemaksiatan, karena memang sangat mungkin manusia bisa lupa atau salah. Jika tidak bersama saudaranya, maka ketika dalam posisi tergelincir seseorang tidak ada yang mengingatkannya, sehingga -na’udzu billah min dzalik- bisa jadi akan semakin jauh dari kebenaran itu sendiri.

Dengan ukhuwah yang sesungguhnya, seseorang akan mudah termotivasi untuk melakukan kebaikan ketika melihat saudaranya terlebih dauhulu berbuat baik. Karena pada dasarnya manusia itu mudah terpengaruh dengan teman pergaulannya, apabila teman-temanya adalah orang yang menyintai Allah dan rasul-Nya, maka seseorang akan denghan mudah menjadi orang yang taat. Tetapi sebaliknya, jika teman pergaulannya dalah orang yang menjauh dari kebaikan, maka seseorang akan tidak dapat kesempatan berinteraksi dengan teman yang berperilaku baik.

Semoga Allah selalu memudahkan kita berada dalam kafilah Ukhuwah Islamiyah, bersama saudara-saudara yang selalu mengingatkan kebaikan, memberi nasehat dan memotivasi untuk berbuat baik. Karena kita tidak mungkin bisa hidup tanpa bersama mereka, seandainya pun bisa, kita akan menghadapi bahaya yang besar dalam kehidupan ini. Wallahu a’lam.
===============
cak.uril@gmail.com

NIKMATNYA UKHUWAH | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *