Menyiapkan Generasi Emas, Membangun Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghafuur

Oleh Heri Pratikto

Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang makmur dan bahagia dan Rabb-mu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” (QS. 34:15).

 

Tanda-Tanda Baldatun Thoyyibatun

Kisah tentang baldatun thoyyibatun (negeri yang baik) telah Allah abadikan dalam Al-Qur’an surat Saba’ ayat 15. Pada ayat tersebut ditunjukkan bahwa Saba adalah kaum yang menempati suatu negeri berhunian laksana syurgawi; negeri yang indah dengan hasil alam melimpah ruah menjadikan masyarakatnya hidup tenang, tentram, damai, tanpa adanya silang-sengketa berebut keuntungan. Itulah rahmat Allah yang dengannya terwujud kemakmuran dan kesejahteraan hidup. Hal yang perlu kita sadari bahwa adanya ampunan dan kasih-sayang Allah sangat menentukan nilai kemakmuran hidup suatu bangsa. Karena dari ampunan dan kasih-sayang Allah itulah mengalir segala bentuk kemudahan hidup, baik kemudahan menggali sumberdaya alam, maupun kemudahan untuk mendaya-manfaatkan hasil alam serta kemudahan mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. Kemakmuran dan kemudahan hidup yang telah dianugerahkan Allah pada kehidupan manusia baik bersifat pribadi, kelompok, kaum atau bangsa seharusnya disyukuri, dalam arti meng-Agungkan, meng-Esakan dan memuji Allah, serta mendidaya-manfaatkan karunia dengan laku-perbuatan kebaikan untuk mewujudkan suasana hunian hidup masyarakat penuh kasih saying secara berkesinambungan. Bila sikap laku-perbuatan demikian dapat terjaga secara utuh, itulah yang dinamakan seorang hamba, kaum atau bangsa telah bersyukur kepada Allah. Baginya, sebagaimana Allah janjikan di dalam firman: “…Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan tambahkan ni’mat kepadamu, dan jika kamu menginginkari ni’mat-Ku sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS.14:7).

Ni’matkah yang bertambah terhadap kehidupan kaum negeri Saba ataukah adzab sangat pedih? Kenyataannya, ni’mat rahmat yang begitu indah berubah menjadi kehidupan pahit. Badai kehancuran berupa banjir besar telah memporak-porandakan kemakmuran hidup secara berkepanjangan. Keadaan hidup demikian pahit itu diabadikan Allah dalam firman-Nya, agar dijadikan pelajaran bagi generasi, kaum atau negeri yang mendatang, sebagaimana tertulis dalam firman: “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr” (QS.34:16).

Bagaimana dengan Indonesia?

Sebagai bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dan negara dengan sumber daya alam terkaya di dunia, Indonesia memiliki peluang besar menjadi Baldatun Thoyyibatun dan menjadi bangsa yang unggul dalam daya saing global. Karena Al Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia dan muslimin menegaskan bahwa “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah (QS. 3:139). Demikian juga, pada ayat berikut: “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman” (QS. 3:139). Jika bangsa Indonesia memiliki ketekatan kuat menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup dapat dipastikan kita menjadi bangsa yang paling unggul dalam daya saing global. Namun kenyataan menunjukkan bahwa, Indeks Daya saing Global (Global Competitiveness Index) Indonesia pada saat ini masih berada pada peringkat 34 dari 144 negara. Hal ini, sebagaimana dilansir World Economic Forum dalam Global Competitiveness Report 2014-2015, bahwa posisi Indonesia berada di atas negara-negara, seperti Spanyol (peringkat ke-35), Portugal ( peringkat ke-36), Kuwait (peringkat 40), Turki (peringkat 45), Italia (peringkat ke-49, Afrika Selatan (peringkat ke-56), Brazil (peringkat ke-57), Meksiko (peringkat ke-61), India (peringkat ke-71). Sedangkan di level ASEAN, peringkat Indonesia masih berada pada peringkat ke-4 kalah dengan tiga negara tetangga, yaitu Singapura (peringkat ke-2), Malaysia (peringkat ke-20), Thailand (peringkat ke-31). Penilaian peringkat daya saing global ini didasarkan pada 12 pilar daya saing, yaitu: pengelolaan institusi yang baik, infrastruktur, kondisi dan situasi ekonomi makro, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tingkat atas dan pelatihan, efisiensi pasar, efisiensi tenaga kerja, pengembangan pasar finansial, kesiapan teknologi, ukuran pasar, lingkungan bisnis, dan inovasi.

Dari 12 pilar daya saing, performa Indonesia saat ini masih belum merata di semua indikator. Kendati performa daya saing global mengalami peningkatkan 4 tingkat, Indonesia masih harus menghadapi tantangan besar terkait penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, penerapan good corporate governance, instabilitas politik dan kebijakan, maraknya pungutan liar, korupsi, gangguan keamanan, maraknya peredaran obat-obat terlarang serta tingginya ketidakpasian terkait perlindungan hak cipta. Demikian juga, efisiensi tenaga kerja dan kualitas pendidikan serta kesiapan teknologi dan inovasi yang masih menjadi tantangan berat mewujudkan keunggulan daya saing global. Tingginya gangguan keamanan akan menghambat investor masuk yang pada gilirannya memperlambat terwujudnya kemakmuran. Rendahnya kemakmuran menyulitkan masyarakat meningkatkan kualitas hidupnya.

Tiga Lapis Pintu Menuju Baldatun Thoyibatun

Untuk mencapai Baldatun Thoyyibatun kita harus melewati 3 lapis pintu, yakni pintu perdamaian, pintu kemakmuran, dan pintu kemanusiaan. Pertama, pintu keselamatan atau perdamaian. As-Salam (Yang Maha Sejahtera) berasal dari akar kata salima yang maknanya berkisar pada keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela. Seorang yang meneladani sifat Allah As-Salam, bila tidak dapat memberi manfaat kepada orang lain, maka jangan sampai dia mencelakakannya. Kalau dia tidak dapat memasukkan rasa gembira dalam hati orang lain, maka jangan ia meresahkannya. Untuk bisa masuk ke dalam baldatun thoyyibatun harus melewati terlebih dahulu pintu keselamatan. Keselamatan dan kedamaian akan terwujud jika kita terhindar dari berbagai teror, pembegalan dan pembajakan, dan pengaruh obat-obat terlarang. Oleh karena itu, tugas awal pemerintah dan masyarakat dalam rangka mewujudkan keselamatan dan perdamaian adalah memerangi para teroris, pembajak, pembegal, dan pengedar obat-obatan terlarang.

Kedua, pintu kemakmuran yang ditandai oleh tercukupinya kebutuhan, ketersediaan rezeki yang melimpah. Ar-Razzaq adalah Allah yang berulang-ulang dan banyak sekali member rezeki kepada makhluk-makhlukNya. Imam Ghazali menjelaskan arti Ar-Razzaq, bahwa: Dia yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia pula yang mengantarkannya kepada mereka yang menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya. Allah sebagai Ar-Razzaq menjamin rezeki dengan menghamparkan bumi dan langit dengan segala isinya. Dia menciptakan seluruh wujud dan melengkapinya dengan apa yang mereka butuhkan sehingga mereka dapat memperoleh rezeki yang dijanjikan Allah itu. Jaminan rezeki yang dijanjikan Allah kepada makhluk-Nya bukan berarti memberinya tanpa usaha. Kita harus sadar bahwa yang menjamin itu Allah yang menciptakan makhluk serta hukum-hukum yang mengatur makhluk dan kehidupannya. Apa yang bisa diupayakan pemerintah dan masyarakat pada pintu ini? Dimana ada keselamatan dan kedamaian disitu kita akan dapat minikmati banyak kebaikan dan mewujudkan kemakmuran/pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, melibatkan banyak investor, bisnis akan tumbuh, akan didapati banyak pekerjaan dan peluang kerja, kita bisa bekerja sesuai kompetensi yang kita sukai, perbaikan kualitas hidup, kita dapatkan fasilitas jalan dan system transfortasi yang lebih baik, mengakses tehnologi tinggi dan inovasi, tersambung dengan dunia dan tetangga yg baik, saling memakmurkan.

Ketiga, pintu kemanusiaan yang menjadi bagian terpenting menuju baldatun thoyyibatun. Pintu ini adalah pintu kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh masyarakat. Pada pintu ini, pemerintah dan masyarakat tentu saja harus bekerja keras untuk memastikan masyarakat bisa hidup lebih baik dengan cara menjaga lingkungan agar bersih dan hijau, saling membantu ketika terjadi bencana alam, bekerjasama memerangi penyakit, menemukan solusi untuk saling mengenal satu sama lain, saling berbagi ilmu, saling menjaga supaya keluarga tetap kuat dan harmonis. Pada pintu ini pula kita mewujudkan rasa syukur dengan berbuat amal shaleh yang Allah ridhoi, untuk meraih kebahagiaan akhirat tanpa melupakan kebahagiaan dunia dan tidak membuat kerusakan lingkungan, sebagaimana firmanNya: Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah Dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (QS. 28:77).

Menyiapkan Generasi Emas

Generasi emas identik dengan generasi shaleh, yakni generasi yang memiliki kemurnian iman dan keyakinan akan hari akhir dengan segala konsekuensinya, sehingga mendorong berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan tercela, senantiasa tampil di depan dalam berbuat kebaikan, sebagaimana firman-Nya: Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh. (Qs. 3:114).

Generasi emas adalah generasi yang mampu bersaing secara global dengan bermodalkan kecerdasan yang komprehensif, yakni kecerdasan yang mendorong berperilaku produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi dengan alam lingkungannya, dan berperadaban unggul. Generasi emas memiliki karakter bersikap positif, berpola pikir esensial, berkomitmen akhlak mulia dan berkompetensi abilitas yang berlandasan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual (IESQ). Generasi emas menjadi kekuatan utama membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, jaya dan bermartabat. Sektor pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi emas.

Untuk menyiapkan generasi emas sebagai modal utama membangun baldatun thoyyibatun, bangsa Indonesia harus meneladani pola pendidikan nabi Ibrahim AS. Kepedulian nabi Ibrahim terhadap negeri dan generasinya terabadikan dalam QS. 14:35: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.

Pola pendidikan Nabi Ibrahim AS dalam mencetak generasi unggul/shaleh/emas, diawali dengan visi mencetak generasi yang menyembah hanya kepada Allah SWT, sangat konsisiten dengan pemurnian aqidah. Misi pendidikan Ibrahim adalah megantarkan keturunannya agar mengikuti ajaran Islam secarah kaffah dan total sebagai proteksi agar anaknya tidak terkontaminasi dengan kesyirikan yang telah mapan dalam struktur kehidupan masyarakat sekitarnya. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an: Ibrahim telah berwasiat kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (Qs. 2:132).

Muatan kurikulum pendidikan nabi Ibrahim telah menyentuh kebutuhan dasar manusia, yakni aspek tilawah untuk pencerahan intelektual, tazkiyah untuk penguatan spiritual, ta’lim untuk pengembangan keilmuan, dan hikmah sebagai panduan operasioanal dalam beramal kebajikan. Hal ini ditegaskan dalam firmanNya, “Ya Tuhan kami, kirimkanlah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu, dan mengajarkan kepada mereka AlQur’an dan Assunnah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS. 2:129).

Berikutnya, nabi Ibrahim AS menyiapkan lingkungan pendidikan yang bersih dari virus yang merusak aqidah dan akhlaq untuk generasinya dengan cara menjauhkan generasinya dari berhala dunia, pikiran sesat, budaya jahiliyah, dan perilaku sosial yang menyimpang. Tempat pendidikan yang dipilih dirancang menjadi satu kesatuan yang integral dengan pusat ibadah, yakni Ka’bah Baitullah. Hal ini dimaksudkan agar generasinya tumbuh dalam suasana spiritual yang khusyu’ dan beribadah hanya kepada Allah SWT. Kiat ini sangat strategis, mengingat faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan anak didik. Sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an, berikut: Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS. 14:37).

Pola pendidikan Nabi Ibrahim AS tersebut merupakan pola pendidikan yang efektif untuk menyiapkan generasi emas. Generasi yang beribadah hanya kepada Allah SWT, berakhlak mulia, produktif-inovatif, damai dalam interaksi sosianyal, sehat-menyehatkan dalam interaksi dengan alam lingkungannya. Sikap dan perilaku demikianlah yang menghadirkan ampunan dan kasih sayang Allah. Demikianlah generasi emas, generasi yang mengantarkan negerinya menjadi “baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur”. Semoga Allah memberikan hidayah dan kekuatan pada kita untuk bisa mewujudkan generasi emas tersebut. Amiin ya Mujibas Sa’ilin.

Menyiapkan Generasi Emas, Membangun Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghafuur | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *