MEMBANGUN DIRI IDEAL AL MUTTAQIEN

Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd *)

 

Saum ramadhan yang merupakan ibadah tahunan umat Islam, yang pada tahun 1435 H ini akan segera dilaksanakan beberapa pekan ke depan, telah dirancang secara khusus oleh Allah SWT dan Rasul-Nya untuk mengkonstruk diri setiap orang yang beriman menjadi “al muttaqien” (QS Al-Baqarah:183), yaitu pribadi yang berkualitas paling tinggi, pribadi yang paripurna, bahkan sosok pribadi yang paling mulia di sisi Allah SWT (QS Al-Hujurat:13). Dalam konteks ini Allah dan Rasul-Nya telah banyak menjelaskan kepada umat Islam bagaimana karakteristik diri ideal al muttaqien itu. Namun bila diperas dan disarikan secara cermat, maka sesungguhnya karakteristik diri ideal al muttaqien tersebut terbentuk dari adanya cita-cita dan tujuan tertinggi yang ingin dicapainya yang dibarengi dengan langkah konkrit membangun berbagai keunggulan diri.

Terkait dengan cita-cita dan tujuan hidup yang tertinggi, Amr bin Al-Ash r.a pernah berkata: “Kalian semua (umat Islam) harus bercita-cita untuk meraih hal-hal yang besar, bukan hal-hal yang kecil”. Mu’awiyah r.a juga pernah berkata: “Barang siapa yang mencari sesuatu yang besar, maka pikirannya akan terbayang pada kebesarannya”. Bahkan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Madarijus Salikin juga menyatakan: “Cita-cita yang tinggi itu tidak akan berhenti pada selain Allah, tidak akan dapat ditukar dengan selain-Nya, dan tidak akan puas kepada yang lain sebagai ganti-Nya. Bagi seseorang, cita-cita yang tinggi adalah lambang keberuntungan­nya. Sebaliknya, cita-cita yang rendah adalah lambang kerugiannya.”

Allah SWT dan Rasul-Nya telah banyak memberikan petunjuk sekaligus motivasi kepada setiap muttaqien untuk menetapkan cita-cita terbesar dan tertingginya. Di antaranya adalah firman Allah: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran:133). Bila kita mentadabburi firman Allah tersebut maka kita akan berkesimpulan bahwa cita-cita terbesar dan tertinggi yang harus dimiliki oleh setiap muttaqien adalah MASUK SURAGANYA ALLAH SWT.

Lantas apa tujuan (what for, what next) yang diinginkan oleh setiap muttaqien setelah masuk surganya Allah tersebut? Dalam konteks ini Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits bahwa: “Rasulullah saw bersabda: ‘Bila penduduk surga telah masuk surga, Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “inginkah kalian jika Aku menambahkan sesuatu untuk kalian?” Mereka berkata, “Tidakkah wajah kami telah menjadi putih, Engkau masukkan kami ke dalam surga, dan Engkau selamatkan kami dari neraka?” Maka Allah menyingkapkan hijab. Tidak ada sesuatu pun yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka sukai daripada kenikmatan melihat kepada Rabb mereka Azza wa Jalla’. Kemudian Nabi membaca ayat (QS Yunus:26): “Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (yaitu melihat wajah Allah)”. Di bagian firman lainnya, yaitu Surah Al-Qiyamah ayat 22—23, Allah SWT juga mengabarkan kepada kita bahwa “Pada hari itu wajah-wajah (orang-orang yang beriman dan bertaqwa) berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat”. Dari firman Allah dan Sabda Rasulullah tersebut dapat dipahami bahwa tujuan terbesar/tertinggi yang harus dimiliki setiap muttaqien adalah BERTEMU DENGAN ALLAH SAW.

Lantas bagaimana dengan kehidupan di dunia ini? Apakah setiap muttaqien tidak boleh bercita-cita dan bertujuan yang berkaitan dengan kehidupan duniawi? Apakah setiap muttaqien tidak boleh menjadi orang kaya, menjadi pengusaha, menjadi pejabat publik (misal presiden atau rektor UM yang sekarang lagi kita kompetisikan), dsb? Tentu jawabnya boleh, silakan. Bukankah Allah SWT telah menyuruh kita: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS Al-Qashash:77). Makna kontekstualnya adalah, Allah tetap mewajibkan kepada setiap muttaqien untuk meraih kehidupan duniawi yang terbaik untuk dijadikan bekal meraih kehidupan akherat yang terbaik pula, yaitu masuk surga dan bertemu dengan Al-Qalik. Dalam konteks tersebut seolah-olah Allah menyatakan: “Wahai al muttaqien, silakan kamu memiliki cita-cita dan tujuan hidup di dunia yang terbaik menurutmu, tetapi orientasikanlah semua itu kepada cita-cita dan tujuan terbesar dan tertinggimu, yaitu masuk surga-Ku dan bertemu dengan-Ku”.

Setelah cita-cita dan tujuan terbesar/tertinggi dirumuskan, dan cita-cita serta tujuan hidup duniawi direncanakan, maka bersamaan dengan itu setiap muttaqien harus aktif mengembangkan kualitas diri idealnya dengan membangun berbagai keunggulan, terutama keunggulan aqidah, ibadah, profesi, dan hubungan sosial.

  1. Membangun Keunggulan Aqidah

Keunggulan aqidah dapat dibangun melalui berbagai cara. Pertama, dengan menjaga kemurnian aqidah “La ilaha illallah, Muhammadarrasulullah”. Dengan aqidah “laa ilaaha illallah”, setiap muttaqien harus menafikkan “ilah” selain “Allah”, sebagaimana firman Allah: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (QS AnNisa’:36). Dengan aqidah “laa ilaaha illallah” setiap muttaqien harus menafikkan pemahaman bahwa “semua agama adalah sama, baik dan benar”, karena hal itu bertentangan dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 19 dan Ar-Rum ayat30.

Kedua, membangun keunggulan aqidah dapat dilakukan dengan selalu mengedepankan nama “Muhammad”, dalam pengertian menjadikan Nabiyullah Muhammad saw sebagai muwajjih yang ma’shum dan uswah yang ditaati. Dengan kata lain, diri ideal seorang muttaqien harus selalu mengidola dan beruswah yang pertama dan utama kepada Nabiyullah Muham­mad saw sebagaimana telah ditegaskan Allah SWT (QS Al-Ahzab:21). Ketiga, membangun keunggulan aqidah dapat pula dilakukan dengan menjadikan al Qur’anul Karim sebagai sumber petunjuk, sumber perundang-undangan dan sumber hukum yang utama dan pertama. Artinya, setiap muttaqien harus menem­pat­kan Al Qur’an sebagai “hudannya”, sebagai petunjuk kehidupannya. Atau menurut istilah KH Musthofa Bisri, Al Qur’an harus dijadikan sebagai manual kehidupan al muttaqien.

  1. Membangun Keunggulan Ibadah

Inti membangun keunggulan ibadah adalah melaksanakan semua amal ibadah dengan beberapa prinsip. Pertama, melaksanakan ibadah sesuai dengan sunah dan secara ikhlas karena Allah semata (QS Al-Mulk:2 dan Al-Bayyinah:5). Kedua, melaksanakan ibadah wajib dan sunah secara proporsional. Artinya, ibadah yang wajib didahulukan, kemudian diikuti dengan yang sunah-sunah. Bukannya, mengerjakan yang wajib saja tetapi tidak mau yang sunah; atau bahkan lebih mengejar yang sunah-sunah namun yang wajib justru terbengkalai. Ketiga, mengkaji makna dan pesan moral dari setiap ibadah yang dilaksanakannya, sehingga ibadah tidak sekedar menjadi acara ritual yang dilaksanakan secara rutinitas belaka, atau acara ritual tanpa makna, tetapi benar-benar akan mampu membentuk kesalihan diri setiap muttaqien baik secara individual maupun secara sosial. Ini menjadi hal yang sangat penting, karena betapa banyak saat ini orang yang beribadah tetapi perilaku sosialnya jauh dari nilai-nilai moral yang terkandung dalam ibadahnya tersebut. Dalam konteks ini betapa banyak Rasulullah telah memberikan warning kepada umat Islam tentang betapa ruginya seseorang yang melakukan amal ibadah tanpa mampu mengimplementasikan pesan moral dari ibadah tersebut. Sekedar contoh, terkait dengan puasa ramadhon Rasulullah sudah mengingatkan kita bahwa betapa banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga; dan terkait ibadah shalat Rasulullah pun pernah bersabda “La shalata liman la tanhahu shalatahu ‘anil fahsyai wal munkar”(tidaklah melakukan shalat orang-orang yang shalatnya tidak menghindarkannya dari kekejian dan kemungkaran).

  1. Membangun Keunggulan Profesi

Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mendapatkan rezeqi dari Allah, agar setiap muttaqien dapat menafkahi istri dan anak-anaknya, dan memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, termasuk sebagai bekal untuk beribadah kepada Allah, maka ia harus bekerja. Dalam konteks ini, Islam memberikan kebebasan kepada setiap muttaqien untuk memilih bidang kerjanya sesuai dengan bakat, minat, dan peluang yang ada.

Dalam konteks kerja di era global, umumnya kelemahan utama al muttaqien dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain adalah rendahnya kompetensi kerja mereka. Jika demikian halnya, tentu sulit bagi setiap muttaqien untuk mengamalkan firman Allah yang menyatakan: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS Al-Jumu’ah:10). Dalam ayat tersebut Allah memotivasi setiap muttaqien untuk memiliki keunggulan profesional agar bisa bertebaran di atas bumi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan memperoleh karunia Ilahi (rezeqi) yang banyak dan barokah, tidak saja di negeri sendiri tetapi juga ke luar negeri manapun. Karena itu, membangun keunggulan profesi harus dilandasi dengan semangat life long learning, yang di antaranya diwujudkan melalui kegiatan re-learning dan re-training di bidang profesinya.

  1. Keunggulan Hubungan Sosial

Membangun keunggulan hubungan sosial dapat dimaknai sebagai upaya peningkatan interaksi timbal balik atau komunikasi dua arah yang berkualitas yang ditandai saling pengertian dan saling menghormati. Dalam konteks ini Rasulullah saw telah menganjurkan kepada umatnya untuk bergaul dengan semua manusia dengan cara yang kita harapkan mereka juga menggunakannya ketika bergaul dengan kita.

Dalam konteks yang lebih luas, membangun keunggulan hubungan sosial juga dapat dimaknai sebagai upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas networking kita dengan pihak lain. Inilah implementasi dari firman Allah SWT: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” (QS Al-Hujurat:13). Membangun “lita’arafu”, saling mengenal, bekerjasama, membangun networking, terutama dengan bangsa-bangsa di dunia, mesti harus dilakukan dengan menguasai bahasa yang dijadikan alat komunikasinya. Oleh karena itu diri ideal muttaqien juga harus terbangun dari penguasaannya terhadap bahasa internasional, terutama bahasa Inggris, di samping bahasa Arab yang memang menjadi bahasa pokok dalam dienul Islam.

Membangun keunggulan hubungan sosial juga harus dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan antarsesama manusia, khususnya umat Islam, dan menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dapat membuat hidup ini bercerai berai, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS Ali Imran:103).

Semoga Allah merahmati kehidupan kita. Selamat menyongsong ibadah saum ramadhan 1435 H, mohon maaf lahir dan batin.

*) Penulis adalah dosen Jurusan Teknik Mesin FT UM

MEMBANGUN DIRI IDEAL AL MUTTAQIEN | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *