MEMAKNAI IHSAN

Tingkatan dalam keberagamaanOleh : Ustadz Abdul Adzim M.Pd

Dalam hadis panjang, Rosulullah SAW didatangi seorang laki-laki yang ganteng, berbaju serba putih, dan tidak tahu datangnya. Tiba-tiba laki-laki itu mendekat duduk persis di depan Rosulullah SAW dengan menempelkan kedua lututnya ke lutut Rosulullah SAW. Kemudian kedua tangan laki-laki itu bertanya kepada Rosulullah SAW seputar Iman, Islam dan Ihsan. Laki-laki itu bertanya:”wahai Muhammad….beritakan padaku tentang Ihsan? Nabi SAW menjawab:” Ihsan itulah jika engkai ber-ibadah seolah-oleh engkau melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melakukan itu ketahuilah sesungguhnya Allah melihatmu” (HR Bukhori dan Muslim).

Menariknya, setelah laki-laki itu bertanya, kemudian Nabi SAW menjawabnya dengan tegas dan jelas, laki-laki menjawab dengan “benar engkau wahai Muhammad”. Rupanya laki-laki ini bukan semabarang orang, buktinya sudah mengerti jawabanya. Tidak lama kemudian, laki-laki ini pergi dan meninggalkan Majlis Rosulullah dan sahabatnya. Umar-pun bertanya kepada Nabi:”siapakah laki-laki itu wahai Rosulullah SAW? Nabi SAW menjawab:”dialah Malaikat Jibril, sedang mengajarkan ilmu kepada kalian”.

Rupanya, Allah SWT mengirimkan Jibril as agar hadir di tenggah-tenggah sahabat dan mengajarkan ilmu agama dengan baik serta cara belajar yang benar. Proses tanya jawab yang dialukan antara Rosulullah SAW dan Jibril merupakan proses belajar mengajar ilmu agama itu harus ikut serta dalam halakoh (bertatap muka) dengan gurunya. Dalam bahasa akademisi, ilmu itu harus linier (muttasil) sehingga bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya. Selanjutnya, belajar agama itu juga bisa dilakukan dengan dialog (diskusi), bukan monolog.  Dan yang terahir, ilmu agama itu tidak akan diperoleh dengan baik dan sempurna jika tidak bersih hati dan pikiranya, sebagaimana gambaran malaikat Jibril yang memaki serba putih.

Ihsan itu berarti melakukan sebuah ibadah dengan khusyuk, ikhlas dan penuh dengan keyakinan bahwa sesungguhnya Allah SWT senantiasa mengawasi (muroqobah) terhadap apa yang kita dilakukan. Di lihat dari bahasa, Ihsan itu berarti terbaik dan sempurna. Oleh karena itu, Allah SWT sering mengatakan di dalam kitab suci seputar orang-orang baik (muhsinin). Orang-orang baik (muhsin) rajin ber-ibadah, tidak kenal waktu, bahkan urusan materi, mereka berlomba-lomba berusaha memberikan yang terbaik untuk sesama.

Setiap jumatan, biasanya seorang khotib jumat selalu meg-ahiri khutbahnya dengan menyebutkan firman Allah SWT yang artinya:”sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan, serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”(An-Nahl: (16:90 ).

“Ihsan menurut Isa Ibn Maryam yaitu berbuat baik terhadap orang yang pernah melukai kita, bukan berbuat baik terhadap orang yang baik terhadap diri kita”. Artinya, orang yang Ihsan itu tidak pernah membedakan antara orang yang pernah menyakiti atau orang yang sudah baik terhadap kita. Semua, adalah hamba Allah SWT yang wajib kita hormati dan dimulayakan. Seorang mufassir yang bernama “Al-Muqotil” meng-artikan Ihsan dengan “pemaaf”. Dan sifat pemaaf itu ciri khas orang-orang yang bertaqwa. (Abdul Adzim Irsad, Malang, 12/012/2015)

Sebuah perintah Allah SWT terhadap putra-putra harus berbuat baik terhadap kedua orangtuanya “wa bil walidaini Ihsana” (QS Al-Baqarah (2:83). Ini mengisaratkan bahwa seorang anak itu harus totalitas berbakti terhadap kedua orangtuanya. Jangan pernah membantah terhadap perintah dan titah kedua orangtua. Dengan kata lain, “siapa yang memiliki kedua orangtua, tetapi hidupnya masih sengsara, maka dia masih belum bisa memberikan yang terbaik terhadap kedua orangtuanya”.

Sesungguhnya, Ihsan kepada orangtua itu menjadi sumber untuk mencapai ridho Allah SWT di dunia, dan kelak akan bahagia di ahirat. Orang yang Ihsan kepada orangtua, dia berarti telah berbuat yang terbaik untuk Allah SWT. Tidak ada kebaikan (Al-Ihsan) kecuali kelak akan dibalas kebaikan juga. QS Ar-Rahman (55:60) yang artinya”tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

Seorang sahabat datang dan meminta pendapat kepada Rosulullah SAW, apa yang harus dilakukan agar bisa masuk surga. Kemudian Rosulullah SAW menjawab:”jadilah engkau orang baik (muhsinan). Lantas sahabat itu bertanya lagi kepada Rosulullah SAW:” bagaimana supaya aku tahu, kalau diriku ini orang baik (muhsin)? Nabi SAW menjawab:”tanyakan kepada tetanggamu, jika mereka mengatakan”engkau baik (muhkhin), maka engatu termasuk baik, jika tetanggamu menagatakan”engkau buruk” maka engkau termasuk buruk” (HR Al-Baihaqi).

Ihsan itu meliputi tiga aspek, yaitu Ibadah, Muamalah, dan Ahlak.

Terkait dengan Ibadah, yaitu menunaikan semua jenis ibadah yang telah diperintahkan Allah SWT kepada Rosulullah SAW, seperti; shalat, puasa, haji, zakat dengan sebaik-baiknya. Ihsan dalam hal ini, berarti saat melaksanakan ibadah menyadari sepenuhnya bahwa Allah SWT senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya.

Sedangkan terkait dengan Muamalah, Ihsan dijelaskan Allah SWT secara gamblang oleh Allah SWT di dalam  surat An-Nisaa’ (4:36) yang artinya:”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun   dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”

Ihsan dari muamalah meliputi  banyak hal, khususnya terkait dengan sesama di dalam berinterkasi sehari-hari, seperti; Ihsan kepada kedua orang tua, dengan cara memulyakan dan mematuhi titah dan perintah kedua orangtuanya. Orang belum dikatakan sempurna imannya, jika belum bisa berbuat baik terhadap kedua orangtuanya.

Ihsan kepada karib kerabat, orang tidak bisa dikatakan baik, jika masih belum bisa berbuat baik terhadap tetangga, kerabat yang ada disekitarnya. Karena itulah Rosulullah SAW mengatakan:”Allah itu senantiasa membantu hamba-Nya, selama hamba itu membantu sasamanya” (HR Muslim).

Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin,  kewajiban sesam muslim yaitu membantu dan memperhatikan sesama. Dengan membantu kesulitan-kesulitan orang lain, berarti ia telah berusaha berbuat baik dan membuka kesulitan-kesulitan yang dihadapi dirinya sendiri. Orang fakir dan miskin yang ada disekitar kita, adalah tanggung jawab kita semua, bagaimana kita yang menunjukkan Ihsan kita kepada Allah SWT dengan cara membantu mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan.

Ihsan dalam akhlak adalah buah dari ibadah dan muamalah. Jangan pernah mengatakan dirinya baik, jika masih belum bisa melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya, dan belum bisa berbuat baik terhadap kedua ornagtua, tetangga dan linkungan sekitarnya. Orang yang sudah mencapai derajat Ihsan yang tinggi, dia selalu menghadirkan Allah SWT setiap saat dan waktu. Tidak pernah sedetik-pun, kecuali Allah SWT hadir dalam hidupnya. Dia tidak pernah melakukan dosa dan maksiat, karena dia selalu merasa bahwa Allah SWT selalu memantau dirinya. Kemudian rasa cinta yang tinggi terhadap junjungan, dengan cara banyak menyebutnya (sholawat), menyebarkan dakwah dan menghidupkan sunnah, dan berusaha sekuat tenaga mencintai sepenuh hati terhadap Rosulullah SAW.

Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada setiap pribadi, lihatlah ibadahnya sehari-hari, serta kesalehan social (kepekaan social), terhadap sekitar dan lingkungan. Memulyakan kedua orangtua, menjaga lingkungan, berbuat baik kepada tengga, masyarakat, dan berusha sekuat tenaga menjaga lisan agar tidak menyakiti sesama. Sangatlah tepat jika Rosulullah SAW bersabada:”Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia”. Wallau A’lam

MEMAKNAI IHSAN | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *