MARHABAN YA RAMADHAN

*Drs. H. Moh. Khusairi, M.Pd

 

Alhamdulillah Ramadhan sebentar lagi datang. Kita diperintahkan untuk menyambutnya dengan gembira ria dan bersuka cita. Oleh karena itu, mari kita semarakkan bulan penuh berkah ini. Kita hidupkan bulan maghfirah ini. Kita ajak keluarga kita, saudara kita, dan tetangga kita, sahabat-sahabat kita menyambut tamu agung yang hanya setahun sekali berkunjung itu. Marhaban ya Ramadhan, selamat datang wahai Ramadhan.

Perasaan gembira itu kita wujudkan dengan melakukan berbagai macam kebajikan, antara lain dengan meneladani kebiasaan Rasulullah SAW, yaitu memberikan ucapat selamat kepada sesama muslim. Ketika bulan Ramadhan datang, beliau memberikan tahniah atau ucapan selamat kepada para sahabat beliau dengan ungkapan:

 

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلاً، جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِبِالْبَرَكَاتِ فَأَكْرِمْ بِهِ.(حديث رواية الطبراني)

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, pemimpin segala bulan, maka sampaikan selamat datang kepadanya. Telah datang bulan puasa dengan membawa beragam keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu”

Ucapan selamat itu akan sangat baik sekiranya disertai dengan mendoakan sesama muslim agar bisa menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya. Sangat baik pula apabila sebelum memasuki Ramadhan kita memohon maaf kepada sesama muslim atas segala dosa, sehingga ketika memasuki Ramadhan, kita sudah tidak mempunyai dosa kepada sesama. Mari kita budayakan pemberian ucapan selamat ketika Ramadhan datang sebagaimana kita memberikan ucapan selamat ketika datang Idul Fitri.

Kegembiraan menyambut kehadiran Ramadhan juga kita wujudkan dengan mempersiapkan diri untuk berpuasa dan menjalankan berbagai macam ibadah lainnya di dalamnya. Menyebarkan informasi yang diperlukan untuk beribadah di bulan Ramadhan, baik mengenai puasa maupun lainnya merupakan perbuatan yang sangat terpuji, sebagaimana Rasulullah SAW sertiap Ramadhan akan tiba mengumumkan dan mengingatkan para sahabat beliau akan keagungan, kelebihan, dan keistimewaan bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA beliau bersabda:

 

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ الله عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ فِيْهِ يُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ  وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِم.

Sesungguhnya telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, yaitu bulan yang diberkati. Allah mewajibkan kepada kalian puasa di dalamnya. Di dalamnya terbuka pintu-pintu surga dan tertutup pintu-pintu neraka Jahim, dan di dalamnya dibelenggu para setan, di dalamnya terdapat malam yang lebih utama dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kepadanya kebaikan selama bulan tersebut berarti tidak diberikan kepadanya segala bentuk kebaikan”.

Ramadhan itu Tamu Agung

Tepat sekali kalau Ramadhan dianalogikan dengan tamu agung.Tamu agung itu datangnya setahun kali, berkunjung ke rumah kita dengan membawa berkah (oleh-oleh atau kebajikan yang melimpah-ruah) yang sangat banyak dan bermanfaat. Di Antara berkahnya adalah ampunan dari segala dosa diberikan kepada orang yang berpuasa. Selain ampunan, ada pahala yang berlipat ganda, bukan hanya pahala puasa, tetapi juga berbagai macam ibadah yang dikerjakan pada bulan ini dilipatgandakan pahalanya oleh Allah.

Berkah Ramadhan lainnya adalah turunnya Lailatul Qadar pada sepertiga bulan yang akhir. Orang yang beribadah pada Lailatul Qadar diberi pahala lebih banyak daripada pahala ibadah 1000 bulan (83 tahun 4 bulan). Ini berarti kalau ada seseorang yang berhasil memperoleh Lailatul Qadar, sepanjang hidupnya seolah-olah digunakannya untuk beribadah. Kalau ia berhasil memperolehnya 10 kali, maka seolah-olah ia beribadah terus selama 834 tahun.

Termasuk berkah Ramadhan adalah dimudahkannya pelaksanaan ibadah oleh Allah. Dengan kondisi syetan dibelenggu, maka tidak ada syetan yang mengganggu kita dalam menjalankan ibadah, juga tidak ada yang membuat kita malas beribadah. Dengan demikian seharusnya kita meningkat dalam ketekunan dan semangat menjalankan beribadah. Sekiranya kita masih malas, maka bisa jadi disebabkan oleh prilaku syetan sudah menyatu dengan kita. Jadi walaupun syetan sudah dibelenggu tetapi karena prilakunya sudah akrab dengan kita, maka kemalasan beribadah atau kesenangan melakukan kemasiatan selama Ramadhan masih tetap dilakukan.

Kehadiran Ramadhan juga membawa berkah kepada orang yang dikunjungi dan menjadikan dosa-dosa orang yang dikunjungi itu diampuni oleh Allah. Berkah dan ampunan itu akan diberikan kepadanya selagi tamu tersebut disambut dengan baik, diperlakukan dengan baik, dan dimulyakan. Demikian juga dengan berkah dan maghfirah yang dibawa Ramadhan. Keduanya tidak serta merta diberikan kepada setiap orang Islam. Hanya mereka yang menyambutnya dengan baik dan benar yang memperoleh berkah dan maghfirah itu. Orang yang menyambutnya dengan memulyakannya akan dikasih-sayangi oleh Allah. Walaupun Ramadhan baru berlalu sepertiga waktu, ia akan memperoleh maghfirah (ampunan atas dosa-dosanya), ketika Ramadhan berlalu dua pertiganya, ia juga memperoleh status pembebasan dari siksa neraka (masuk surga secara langsung tanpa transit di neraka) ketika bulan Ramadhan berakhir.

Jangan sampai tamu yang berkunjung ke rumah kita merasa disakiti atau diacuhkan. Orang yang pada bulan Ramadhan tetap menjalankan kemaksiatan dan pertengkaran berarti menyakiti bulan mulya ini. Demikian juga orang yang suka bermain petasan dan sering SAW makan dan minum tidak halal atau berlebih-lebihan, tak ubahnya ia menyakiti tamunya. Akibatnya oleh-oleh yang dibawanya tidak diberikan kepada yang punya rumah, sebaliknya Ramadhan yang bertamu itu akan melaknatinya.

 

Persiapan Menghadapi Romadhan

Perasaan gembira karena datangnya bulan Ramadhan tersebut harus direalisasikan dalam bentuk mempersiapkan diri sejak din. Rasulullah SAW memberi contoh dengan usaha dan doa. Usaha untuk mempersiapkan diri dalam menyambut Ramadhan adalah berupa latihan berpuasa, yaitu puasa pada bulan Rajab dan pada bulan Sya’ban. Pada kedua bulan itu beliau menjalankan puasa sunnah secara bertahap, dalam arti puasa sunnah Rajab beberapa hari (tidak penuh sebulan) dilanjutkan dengan puasa Sya’ban (sering sebulan penuh). Adapun doa terwujud dalam permohonan untuk memperoleh berkah pada bulan Rajab dan pada bulan Sya’ban serta dipanjangkan umur sampai Ramadhan. Semakin dini persiapan penyambutan dan semakin intensif pelaksanaannya, maka akan semakin banyak berkah yang diperoleh pada bulan Ramadhan. Lafal doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:

 

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَان

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan (HR. al-Baihaqi dan Thabrani).

Persiapan menyambut Ramadhan bisa dibedakan menjadi tiga; secara fisik, mental dan spiritual. Persiapan fisik diwujudkan dengan upaya menjaga tubuh agar sehat dan tidak sakit, terutama selama bulan Ramadhan, sehingga bisa berpuasa sebulan penuh. Bagaimanapun juga orang sakit tidak akan bisa berpuasa dengan maksimal. Persiapan fisik dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi, halal dan dijamin kehalalannya serta tidak berlebih-lebihan. Hal ini sejalan dengan firman Allah, yang terjemahnya adalah:

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (Q.S. Al-Maidah: 88).

Makan dan minumlah kalian, serta jangan berlebih-lebihan! Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. Al-A’raf: 31).

Kedua potongan ayat tersebut mengisyaratkan kepada kita untuk mengatur pola makan yang sehat. Dalam ilmu kesehatan, ada slogan yang menyatakan bahwa sebaiknya makanan yang kita konsumsi itu memenuhi syarat “empat sehat lima sempurna”. Sebagai umat Islam kita harus menambah slogan itu dengan “dijamin halal dan tidak berlebihan”. Sebab makanan dan minuman yang tidak halal mengakibatkan tidak diterimanya ibadah yang kita kerjakan. Berlebihan di dalam makan dan minum akan berakibat buruk bagi kesehatan jasmani, terbukti dengan banyaknya penyakit mematikan lantaran kelebihan makan dan minum.

Persiapan mental, artinya kita sambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh rasa syukur kepada Allah dan dengan kegembiraan serta dengan ketulusikhlasan. Kita sikapi bahwa perintah puasa bukanlah beban bagi kita, melainkan fasilitas yang Allah persiapkan sebagai sarana yang tepat untuk memperoleh ampunan dari segala dosa sekaligus sarana untuk meraup pahala yang berlipat ganda. Kita tanamkan tekad dan niat untuk memperbaiki diri, memperbaiki ibadah puasa kita agar kualitasnya lebih baik daripada sebelumnya. Semua ibadah yang kita kerjakan, baik yang wajib maupun yang sunnah, kita bungkus dengan kemasan keikhlasan dalam arti diniati hanya untuk memperoleh ridha Allah Azza Wajalla semata.

Persiapan spiritual terwujud dalam upaya membekali diri kita ilmu tentang puasa, adab dan etikanya serta dengan sebanyak mungkin mengenali amalan-amalan yang biasa dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. selama bulan Ramadhan. Di samping itu, kita sedapat mungkin berusaha membersihkan hati dari sifat-sifat tercela seperti sombong, takabbur, dengki, tamak dan sifat-sifat hina lainnya; sebagaimana kita jauhi dan kita tinggalkan kegiatan menggunjing (ngrasani), mengfitnah, berdusta, serta mendengarkan dan atau melihat kemaksiyatan agar ibadah yang kita laksanakan diterima oleh Allah SWT.

 

Amalan-amalan pada Bulan Ramadhan

Memulyakan tamu yang sempurna, yakni Ramadhan, meliputi 3 macam kegiatan yang dalam Bahasa Jawa dinamakan gupuh, lungguh, dan suguh.Gupuh maksudnya tuan rumah sibuk merencanakan penyambutan tamu dengan cara yang sebaik-baiknya. Tuan rumah terkadang merasa tidak cukup waktu, biaya, dan tenaga untuk mempersiapkan penyambutan yang demikian. Akibatnya iapun gupuh atau tergesa-gesa dalam melaksanakan semuanya. Dalam konteks menerima tamu Ramadhan, maka kita sebagai muslim juga perlu gupuh menyisihkan waktu, biaya, tenaga, dan pikiran untuk mempersiapkan dan melaksanakan berbagai kegiatan pada bulan Ramadhan tersebut.

Lungguh artinya bahwa tamu perlu dilungguhkan (disediakan tempat duduk yang layak dan dipersilakan duduk) di tempat duduk yang nyaman dan disambut, ditemui dengan sikap yang ramah, ditemani dengan baik, dan dilayani kebutuhannya.Kalau memungkinkan seluruh anggota keluarga diperkenalkan dan diajak menerima tamunya. Kalau sang tamu ingin bermalam maka tuan rumah menyediakan untuknya penginapan (tempat tidur) yang layak dan memadai sesuai kemampuan. Harapannya, sang tamu bisa merasakan seolah ia berada di rumah sendiri dan di tengah keluarga sendiri. Dalam konteks Ramadhan kita menambah porsi ibadah dan mengurangi porsi kerja, tidur, dan istirahat untuk menemui dan menemani tamu Ramadhan itu. Semuanya kita lakukan dengan suka-cita bersama anggota keluarga.

Suguh maksudnya tamu yang datang itu diberi suguhan atau jamuan, baik berupa makanan maupun minuman. Makanan yang disuguhkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Alangkah baiknya kalau tidak hanya makanan kecil (kue) yang disuguhkan tetapi juga makanan besar (nasi). Dalam konteks Ramadhan maka suguhan tersebut adalah amalan wajib yang harus dikerjakan dan amalan sunnah yang sangat baik dikerjakan. Amalan wajib tersebut adalah berpuasa sejak terbit fajar sampai dengan terbenam matahari dengan tetap mengerjakan kewajiban sehari-hari seperti shalat dan lainnya dan tidak lupa memabayar zakat fitrah. Sedangkan amalan sunnah, antara lain adalah shalat tarawih, qiyamul lail (shalat tahajjud, shalat hajat, shalat witir, dan wirid-wirid yang diajarkan Rasulullah SAW), memperbanyak bacaan Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, menghadiri majlis-majlis ta’lim, dan lain-lain. Semakin banyak amalan yang dilakukan berarti semakin banyak dalam memulyakan tamu Ramadhan.

Syaikh “Aidh Abdullah Al-Qarni mengatakan bahwa Rasulullah SAW sedikit tidurnya. Pada bulan Ramadhan porsi tidur yang sedikit itu dikurangi untuk menambah porsi ibadah. Beliau juga sedikit makan, dan pada bulan Ramadhan dikurangi porsi makan yang sudah sedikit itu. Beliau itu pada bulan Ramadhan mengurangi srawung (bergaul) dengan orang lain, agar tidak banyak waktu terbuang untuk selain ibadah. Oleh karena itu, walaupun tidurnya orang berpuasa itu ibadah, kita tidak baik kalau sedikit-sedikit tidur.Puasa itu untuk mengurangi porsi makan, maka tidak baik pula jika pada malam hari kita sedikit-sedikit makan (ngemil).

Jangan sampai pada bulan Ramadhan kita malah bertengkar, melakukan kemaksiatan, dan sejenisnya.Kalau hal itu kita kerjakan berarti bulan suci yang bertamu itu kita beri suguhan pertengkaran dan kemaksiatan. Akibatnya, berkahnya tidak diberikan kepada kita selaku tuan rumah.

 

Landasan Amalan Ramadhan

Agar semua ibadah yang dilakukan seorang muslim-muslimah diterima oleh Allah, maka harus memenuhi dua syarat, yaitu: dilandasi iman dan ikhlas. Demikian juga ibadah pada bulan Ramadhan. Semuanya harus dilandasi dengan keimanan dan keikhlasan (imanan wa ihtisaban). Betapapun baiknya suguhan Ramadhan yang berupa ibadah itu kalau tidak dikemas dengan kemasan iman maka tiada berguna.Termasuk dalam pengertian iman adalah pelaksanaan ibadah itu harus sesuai dengan ilmu (syariat) puasa, sebab barang siapa yang beribadah tidak sesuai dengan ilmunya maka ibadahnya ditolak.

Banyak orang yang berpuasa, namun tidak semua puasa seseorang diterima oleh Allah. Orang yang berpuasa agar badannya langsing, berpuasa agar sehat, berpuasa agar hemat, berpuasa agar mendapat pujian orang lain, berpuasa agar si Anu mencintainya; kepada orang yang demikian Allah hanya akan mengabulkan keinginannya, namun tidak memberikan pahala kepadanya. Puasa yang tidak diniati semata mengharap ridha Allah, Allah tidak akan menerimanya. Demikian juga orang yang berpuasa sambil berkeluh-kesah atau memamerkan puasanya kepada orang lain, Allah tidak akan memberikan pahala kepadanya. Adapun orang puasanya dikerjakan secara ikhlas lalu ia memohon hajatnya kepada Allah maka tetap mendapat pahala puasanya dan Allah akan mengabulkan keinginannya itu.

*Penulis adalah Dosen Jurusan Sastra Arab FS

MARHABAN YA RAMADHAN | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *