KEAJAIBAN DOA

*Drs. H. Ahmad Fuad Effendy, M.A.

Imam Abu Hanifah mempunyai tetangga pemabuk berat. Berbagai upaya penyadaran telah beliau lakukan namun hasilnya nol. Suatu hari, istri pemabuk itu datang kepada Imam untuk meminta beliau menshalati jenazah suaminya. Imam Abu Hanifah menolak. Pada malam harinya beliau bermimpi melihat si pemabuk itu berjalan-jalan di taman sorga. Dia berkata, “katakan kepada Imam abu Hanifah, alhamdulillah Allah tidak menyerahkan urusan masuk surga kepada dia”.Imam Abu Hanifah sangat menyesal dengan tindakannya kepada tetangganya yang pemabuk itu. Beliau bertanya kepada istrinya, “apa yang kamu ketahui tentang tetangga kita itu?”. Istrinya menjawab, “tidak banyak yang kuketahui, kecuali bahwa dia setiap hari Jumat mendatangi anak-anak yatim di desa ini, memberi mereka makanan, mengelus-elus kepala mereka sambil menangis, dan berkata, “doakan pamanmu ini ya nak”. Kiranya Allah mengabulkan doa salah satu atau sebagian dari anak-anak yatim itu. Demikianlah, doa seorang anak yatim telah mengangkat seorang pemabuk ke taman surga.

Keberhasilan tiga bersaudara “Trimurti” dalam membangun pondok modern Gontor tidak terlepas dari kekuatan doa. Dari sebuah Taman Kanak-kanak di desa kecil terpencil nun jauh dari keramaian kota, telah menjelma menjadi sebuah lembaga pendidikan Islam yang memiliki reputasi internasional. Pesantren Gontor kini memiliki belasan cabang resmi, puluhan pesantren alumni, ribuan hektar tanah wakaf, dan alumninya tersebar di berbagai belahan duinia. Para kyai Gontor selalu meyakinkan para santrinya bahwa kemajuan Gontor itu adalah berkat kekuatan doa. Setiap kali bertemu santri, wali santri, dan para tamu pondok, pak Kyai selalu minta didoakan. Setiap kali melepas santri yang akan liburan pulang kampung, beliau selalu berpesan, “mintakan doa kepada orang tuamu agar pondok kita ini terus maju dan diberkati Allah”. Dalam buku biografi K.H.Imam Zarkasyi dikisahkan bahwa ibu dari “trimurti” ini setiap bertemu dengan siapapun selalu minta doa untuk anak-anaknya. Suatu kali beliau bertemu dengan seseorang yang di kampung Gontor dikenal sebagai bromocorahyang berkali-kali keluar masuk penjara. Beliau bercerita tentang anak-anaknya yang sedang mondok dan minta didoakan agar mereka menjadi manusia yang berguna. Orang itu menjawab “kok ibu meminta doa dari saya, apakah doa seorang penjahat seperti saya ini didengar oleh Tuhan?”. Ibu mulia itu menjawab, “doamu untuk dirimu mungkin saja tidak didengar, tapi doamu untuk anak-anakku tidak mustahil dikabulkan oleh Allah”.

Dikisahkan bahwa Ibrahim ibn Adham sedang bepergian dengan kapal laut. Tiba-tiba angin topan datang menerjang. Para penumpang menangis ketakutan dan yakin bahwa mereka akan binasa. Ibrahim saat iru sedang tidur di buritan, kemudian bangun dan berdoa, “Ya Allah, Engkau telah menunjukkan kepada kami kekuasaan-Mu, maka sekarang tunjukkanlah kepada kami ampunan dan maaf-Mu”. Tiba-tiba angin topan menghilang dan lautan kembali tenang. Abu Balaj Al-Bazary bercerita bahwa suatu hari ada seseorang yang dihadapkan kepada Al-Hajjaj bin Yusuf – seorang gubernur dari dinasti Bani Umaiyah yang terkenal kekejamannya – untuk menerima vonis hukuman mati. Ketika sampai di hadapannya, orang itu bergumam mengucapkan sesuatu yang tidak jelas. Anehnya, Al-Hajjaj ternyata membatalkan hukuman mati untuknya. Setelah keluar dari kantor gubernur, dia ditanya oleh pengawal gubernur, “apa yang anda ucapkan sehingga gubernur membebaskan anda?”. Dijawab, saya hanya berdoa “Ya Azizu ya Hamidu ya Dzal ‘arsyil majid, ishrif ‘anni ma athiqu wa ma la athiqu, wakfini syarra kulla jabbarin ‘anid”. Doa sederhana yang keluar dari hati yang tulus dan tawakkal telah menyelamatkan manusia dari amukan badai dan dari penguasa yang angkara murka.

Bahwa doa membawa keajaiban sebenarnya tidaklah ajaib karena Allah Maha Kuasa melakukan apa saja yang dikehendakinya. Justru yang menjadi persoalan adalah bagaimana meraih keajaiban itu? atau sederhananya bagaimana agar doa kita dikabulkan oleh Allah sehingga kita merasakan atau orang melihat suatu keajaiban terjadi pada diri kita. Untuk ini pertama-tama perlu dipahami makna dan fungsi doa.

Makna dan Fungsi Doa

Doa secara harfiah berarti panggilan atau sapaan. Ketika berdoa, seorang hamba pada dasarnya sedang menyapa Allah dengan menyebut asma-asma-Nya yang indah dan mulia, dengan mensucikannya (tasbih), memujinya (tahmid), dan mengagungkan-Nya (takbir).Di dalam doa, seorang hamba mengadu, meminta, memohon, sambat kepada Allah.Rasulullah SAW. mengungkapkan sabda Ilahi dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la, “Aku adalah seperti yang disangkakan oleh hambaKu, dan Aku bersama hamba-Ku ketika ia berdoa kepada-Ku”. Kebersamaan Allah dengan gamba-Nya adalah kebersamaan yang membawa rahmat, anugerah, kedekatan dan kehangatan. Bukankah Allah berfirman: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang diriku, katakanlah bahwa Aku sungguh dekat, dan akan menjawab panggilan hamba-Ku apabila ia memanggil-Ku (berdoa kepada-Ku)”.

Dari segi fungsinya dapat dikatakan bahwa doa adalah jalan kebahagiaan yang bisa ditapaki oleh orang-orang yang mengenal Allah, mencintai-Nya, dan menghambakan diri kepada-Nya. Doa adalah sumber kelezatan bagi orang beriman. Doa adalah jalan keluar bagi orang-orang yang dihadang kebuntuan. Doa adalah kunci pembuka untuk mencapai keinginan-keinginan. Doa adalah penyejuk hati orang-orang papa, pelipur lara bagi orang-orang yang berduka. Doa adalah penawar kesedihan, keresahan dan kegelisahan. Doa adalah tangga pertobatan bagi para pendosa.

Doa tidak hanya diperlukan pada waktu kesusahan atau kesulitan. Seorang hamba harus juga mengingat Tuhannya pada saat lapang dan bahagia. Berdoa hanya pada waktu susah dan meninggalkannya pada saat bahagia merupakan perilaku orang yang lupa, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Fushshilat 51: “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri. Tapi bila ia ditimpa malapetaka maka tak henti-hentinya dia berdoa ”.Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa ingin agar doanya di waktu kesusahan dikabulkan oleh Allah, hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapang dan bahagia” (HR At-Turmudzi dan Al-Hakim).

Orang yang jauh dari jalan Allah, manakala ditimpa kesusahan dan kesulitan, dia lari ke rumah-rumah disko atau menjerumuskan diri ke dalam narkoba. Dia mengira bahwa hingar-bingar suara musik dan “penerbangannya” ke alam maya, dapat mengatasi kesulitannya. Ada pula yang lari ke “orang pintar” atau orang yang punya kekuasaan. Namun akan dihadapinya kenyataan bahwa manusia, siapapun dia, terbatas kemampuannya. Sebagai manusia, dia bisa jatuh sakit, menjadi tua, mati, ditimpa kesusahan dan peristiwa-peristiwa yang mengubah keadaannya. Betapa banyak “orang pintar” yang ternyata amat bodoh. Betapa banyak penguasa yang terusir, tiran yang tumbang, orang terhormat yang menjadi hina, orang kaya yang jatuh miskin, jawara yang tak lagi berdaya. “Semua yang di atas bumi ini akan fana dan hanya wajah Tuhanmu Yang Maha Besar dan Maha Mulia yang tetao kekal abadi” (QS 55:26). Maka bagi orang beriman, hanya Allah lah tempat ia bergatung dan berandar, memohon perlindungan dan pertolongan, memohon petunjuk dan pencerahan, memohon perlindungan dan pertolongan. Meminta jalan keluar dari kesulitan, mengharapkan maaf dan ampunan, mengadukan kepedihan dan kesusahan.Bila menghadapi problema yang tak terpecahkan, ia bergegas menemui Allah dalam shalat dan doa.

Kekuatan Doa

Dimanakah letak kekuatan doa? Ada yang beranggapan bahwa kekuatan doa terletak pada teks doa itu sendiri. Kalau ingin memperoleh ini doanya ini; kalau ingin memperoleh itu doanya itu, dan seolah segalanya beres. Ini tidak salah, karena Nabi SAW. memang mengajarkan doa-doa yang sangat bermakna bagi kehidupan. Tapi kalau hanya terpaku pada teks, maka doa bisa menjadi semacam mantra. Kita juga mengenal waktu-waktu yang istimewa untuk berdoa, seperti waktu sahr (pertiga malam terakhir), hari Jumat, hari Arafah, bulan Ramadhan, waktu antara adzan dan iqamah, dll. Kemudian ada tempat-tempatuntuk doa yang mustajabah, misalnya,di Masjidil Haram, Masjid Nabawi khususnya Raudhah, Hijir Ismail, dan sebagainya. Tapi karena terpaku pada tempat, yang menjadi fokus pada akhirnya bukan Allah melainkan tempat itu sendiri, yang berakibat terjadinya perebutan dan monopoli tempat. Padahal petunjuk Rasulullah SAW mengenai tempat, waktu, bahkan teks doa, dan lainnya hanyalah semacam petunjuk “administratif”, dan kekuatan doa tidak terletak pada teknis administratifnya. Lantas dimana?

Kekuatan doa, yang pertama-tama terletak di dalam hati yang sadar (wa’in) bahwa dia sedang berdoa kepada Allah. Sebagus apapun doanya dan semulia apapun waktu dan tempatnya, tapi jika hati yang membacanya lalai (lahin), maka bagaimana Allah akan mengijabahinya. Kedua, terletak pada kepasrahan diri kepada Allah. Ketika seorang merasa tidak lagi memiliki daya dan kekuatan, dan dengan segala kerendahan hati menyerahkan diri kepada Allah, di situlah doanya didengar dan diijabahi oleh Allah. Ketiga, kekuatan doa terletak pada akhlak orang yang berdoa. Rasulullah Saw bersabda, “Allah itu baik dan tidak menyukai kecuali yang baik-baik”.Kemudian beliau menyebutkan mengenai seseorang yang datang dari suatu perjalanan jauh dengan rambut acak-acakan dan wajah berdebu, mengangkat tangannya ke langit sambil berucap, “Ya Tuhanku, ya Tuhanku”. Selanjutnya beliau bersabda, “bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah, sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram”.

Ibrahim ibn Adham ketika ditanya oleh seseorang mengenai doa-doanya yang tidak dikabulkan oleh Allah, beliau menjawab: “Karena kamu mengenal Allah tapi tidak menaatinya, kamu mengenal Rasulullah tapi tidak mengikuti sunnahnya, kamu mengenal Al-Qur`an tapi kamu tidak mengamalkannya, kamu memakan pemberian Allah tapi kamu tidak mensyukurinya, kamu mengenal surga tapi kamu tidak berusaha mengejarnya, kamu mengenal neraka tapi tidak berusaha lari darinya, kamu mengenal kematian tapi kamu tidak bersiap-siap menghadapinya, kamu mengabaikan aibmu dan sibuk dengan aib orang lain”.

Perlu juga kita simak penuturan Rasulullah SAW mengenai pengabulan doa dalam hadis riwayat Bukhari Muslim. Sabdanya, “Tidak ada satu pun orang muslim yang berdoa, dan dalam doanya tidak terkandung dosa atau pemutusan silaturahmi, kecuali diberikan oleh Allah kepadanya tiga kemungkinan: segera dikabulkan, disimpan untuk akhiratnya, atau dikabulkan untuk menolak keburukan-keburukan yang akan menimpanya”.

*Penulis adalah Ketua Ta’mir Masjid Al-Hikmah UM

KEAJAIBAN DOA | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *