BUDAYA JAHILIYAH

Oleh : Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Sebelum Islam datang, masyarakat jazirah Arab hidup dalam kejahiliyahan, yang secara bahasa maknanya adalah kebodohan. Namun, kebodohan di sini bukan berarti tidak memiliki ilmu pengetahuan sama sekali, karena pada kenyataannya mereka telah menguasai berbagai disiplin ilmu seperti perdagangan, kesusastraan, politik dan sebagainya. Yang dimaksud dengan kebodohan mereka adalah karena mereka tidak mengenal Tuhan dan agama yang benar, yaitu Islam. Karena itu, perilaku mereka bertentangan dengan nilai-nilai yang dibawa oleh Islam melalui baginda nabi Muhammad saw.

Diantara contoh kebiasaan masyarakat Jahiliyah adalah mereka memandang bahwa adanya anak perempuan adalah aib bagi keluarga, sehingga mereka harus menutupinya dengan membunuhnya, meskipun itu anaknya sendiri. Secara logika saja perbuatan seperti ini sudah tidak bisa diterima oleh akal sehat, mana mungkin kehidupan mereka bisa bertahan dengan sempurna manakala pemilik rahim dipunahkan. Karena itulah Islam datang mengentaskan manusia dari kejahiliyahannya.

Untuk lebih mendekatkan kepada pemahaman, al Quran al Karim sering menggambarkan dan mengkontradiksikan antara kehidupan islami dan jahili, hampir bisa dipastikan bahwa nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam adalah jahiliyah. Sehingga penerapan jahiliyah ini tidak dibatasi oleh waktu dan ruang, kapan saja dan dimana saja sampai saat sekarang ini, jika ada penerapan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam, maka bisa disebut Jahiliyah.

Jahiliyah juga identik dengan kerusakan, tananan masyarakat jahiliyah adalah tatanan masyarakat yang rusak. Karena itu al Quran memperingatkan kepada kita kaum muslimin agar tidak mengikuti budaya jahiliyah yang akan mengantarkan kepada rusaknya masyarakat, diantaranya adalah:

Pertama: Dzann al jahiliyah atau perasangka jahiliyah (Ali Imron:154). Perasangka itu atu adalah pekerjaan hati, larangan memiliki perasangka sebagaimana perasangka orang-orang jahiliyah menunjukkan rusaknya hati mereka, rusaknya hati adalah pangkal segala kerusakan, sebagaimana baiknya hati adalah modal kebaikan bagi segalanya. Islam memperingatkan kita agar menjauhi budaya dzann al jahiliyah ini karena pada akhirnya akan merusak identitas umat Islam, masyarakat dan bangsa.

Kedua: Hukm al jahiliyah atau hukum jahiliyah (Al Maidah:50). Penerapan hukum di zaman jahiliyah jelas tdak sesuai dengan Islam, jauh dari nilai-nilai keadilan. Apabila yang melakukan pelanggaran adalah keluarga bangsawan, maka hukum tidak akan dapat menjamah mereka. Al Quran memerintahkan kita untuk menjauhi hukum jahiliyah ini karena pada saatnya akan menghancurkan masyarakat dan bangsa.

Ketiga: Tabarruj al jahiliyah atau budaya wanita jahiliyah yang suka mengumbar aurat (Al Ahzab:33). Wanita muslimah dilarang mengikuti budaya ini, karena akan menimbulkan kemudharatan yang besar. Diantara sebab terjadinya berbagai pelanggaran moral di masyarakat dan selanjutnya akan merusak bangsa dan masyarakat itu sendiri adalah karena para wanitanya berdandan dengan tabarruj al jahiliyah.

Keempat: Hamiyyah al jahiliyah atau fanatisme golongan (Al Fath:26). Diantara budaya jahiliyah yang sangat jelek adalah fanatisme golongan. Mereka dengan mudah memusuhi kelompok lain karena kabilahnya diusik, karena itu sering terjadi peperangan antar suku karena adanya fanatisme itu. Al Quran melarang fanatisme ini terjadi dalam masyarakat Islam karena akan menghancurkan persatuan dan ketenangan di masyarakat.

Kawan…
Demikianlah gambaran al Quran tentang budaya jahiliyah, rasulullah saw. sendiri dalam salah satu hadisnya bersabda: “Segala sesuatu (budaya) yang dilakukan pada zaman jahiliyah ada di bawah telapak kakiku (harus ditinggalkan), kecuali sifat amanah”. Memang tidak ada pilihan lain bagi kita untuk membangun masyarakat yang berperadaban kecuai harus mengikis habis budaya jelek jahiliyah.

Semoga Allah selalu menuntun kita untuk tetap komitmen hanya pada nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Islam, sehingga kenikmatan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak benar-benar menjadi kenyataan bagi kita. Wallahu a’lam.
===============
cak.uril@gmail.com

BUDAYA JAHILIYAH | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *